"Terserah apa kata Anda. Kalau suatu saat nanti Anda meninggalkan kehidupan membiara lalu memiliki anak, Anda akan tahu bagaimana rasanya menjadi ayah."
Frater Gabriel tertawa sumbang. "Sangat kecil kemungkinan saya lepas jubah."
Untunglah dia berhadapan dengan Calvin yang penyabar. Anak muda sok idealis itu akan habis jika dibantai Adica yang skeptis.
"Anak saya menyukai Anda," ujar Calvin tenang.
Seulas senyum simpul terukir di bibir Frater Gabriel. Ia tak selemah konfraternya. Sejumlah teman seangkatan Frater Gabriel di Seminari terhenti langkahnya hanya gegara lawan jenis.
"Anda mau mempengaruhi saya?"
"Tidak. Saya hanya ingin membuat Silvi bahagia."
Ketulusan terpancar dalam di mata Calvin. Begitu tulusnya pancaran energi itu hingga Frater Gabriel terhanyut. Namun, tembok imannya terlalu kuat. Kecintaannya pada Santo Fransiskus dari Asisi dan keteguhannya sebagai Saksi Kristus mengalahkan cinta kasih seorang ayah.
Sekumpulan petugas katering muncul. Mereka membawa piring-piring makan. Calvin melesat di antara mereka, menyamar menjadi pembawa piring makan malam.. Sebentar lagi, tibalah acara yang paling ditunggu peserta LKO: candle light dinner.
Frater Gabriel menyuruh para peserta berkumpul. Dari lapangan, mereka akan berjalan ke kelas untuk makan malam bersama. Seluruh penerangan di sekolah dipadamkan. Sebagai gantinya, dinyalakan ratusan lilin. Suasana mencekam karena gelap sekaligus mendebarkan karena gairah.
Mulailah para peserta LKO bermarching band menuju ruang-ruang kelas. Mereka berjalan sambil bernyanyi. Frater Gabriel memandu mereka menyanyikan lagu Gaudeamus Igitur. Entah ide apa yang merasuki kepalanya hingga lagu itu yang dipilih untuk dinyanyikan sebelum candle light dinner.