Mohon tunggu...
Acek Rudy
Acek Rudy Mohon Tunggu... Konsultan - Palu Gada

Entrepreneur, Certified Public Speaker, Blogger, Author, Numerologist. Mua-muanya Dah.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Mei-ling, Putri yang Hilang dan Takdir yang Berulang

30 Januari 2022   06:04 Diperbarui: 30 Januari 2022   06:07 875
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mei-Ling, Putri yang Hilang dan Takdir yang Berulang (jakartaglobe.id)

Seorang wanita turun dari mobil mewahnya. Menuju ke arah kelenteng tempat ia biasa bersembahyang menyambut imlek.

Kelenteng tersebut terletak cukup jauh dari gerbang masuk utama, sehingga ia harus berjalan menyusuri halaman yang dipenuhi oleh orang yang berjualan.

Tetiba langkahnya terhenti. Seorang peramal jalanan menghampirinya dengan muka serius.

"Ibu, bisakah aku meramal nasibmu? Saya tidak akan meminta apa-apa." Ujar sang peramal tua.

Awalnya wanita tersebut enggan. Namun, ia baru sadar jika dirinya memang belum pernah diramal. Akhirnya ia pun memutuskan untuk singgah ke lapak sang bapak tua tersebut.

Sang peramal pun mulai berbicara, "Saya mendapat firasat jika ibu bukan orang biasa-biasa. Bisakah saya meminta nama dan tanggal lahir ibu?"

Sang wanita pun memberikan data yang diminta lengkap. Tidak sampai beberapa menit mata sang peramal terbelalak, wajahnya keheranan...

**

Mei-ling duduk di depan tempat usahanya. Sebuah kios kecil yang berjejeran dengan lapak-lapak lainnya. Di sebuah pasar di pinggiran kota Taipei. Sulit dibedakan, karena hampir semua tempat menjual dagangan yang sama: aksesoris imlek.

Suara bising berasal dari seluruh penjuru. Para pedagang beradu gaduh untuk menarik para pengunjung pasar yang mulai ramai menjelang imlek.

Badan Mei-ling mungil, suaranya tidaklah keras. Ia tak mau bersaing dengan Liu-mang pemilik kios di sebelah kanan. Badannya kekar, kuat megangkat dagangannya hingga ke ujung jalan.

Mei-ling juga tidak mau bersaing dengan Siau-lang, pemilik kios di sebelah kirinya. Wajahnya judes, hatinya apa lagi. Tapi, di hadapan pelanggan ia bisa mempertontonkan senyuman dewi rembulan.

Mei-ling lebih memilih diam. Ia bukannya pasrah. Mei-ling memiliki prinsip kuat bahwa rezeki tidak akan kemana-mana, sepanjang kejujuran selalu terjaga.

**

Seorang ibu tua tampak kebingungan, berjalan menyusuri koridor pasar yang ramai. Ia tampak kesulitan melangkah di tengah-tengah himpitan barang dagangan.

Tidak ada yang peduli dengannya, para pengunjung maupun pedagang. Hingga langkah kakinya terhenti di depan kios Me-ling. Sekilas ia melihat Mei-ling, wajahnnya tertegun.

"Ada yang bisa saya bantu, ibu?" Mei-ling bertanya sekilas. Saat itu tokonya sedang ramai pengunjung. Namun, entah kenapa kehadiran sang ibu tua begitu menarik perhatiannya.

Sang ibu tua tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan berdiri di pojokan memperhatikan kesibukan Mei-ling. Setelah suasana kios agak sepi, barulah Mei-ling menyapa kembali.

"Adakah yang bisa saya bantu, ibu?" Mei-ling kembali bertanya.

"Saya ingin membeli barang daganganmu."

"Baik bu, silahkan memilih barang-barang yang ibu inginkan."

"Saya ingin membeli semuanya," pungkas ibu tua.

"Ma... maksudnya bu?" Mei-ling tidak percaya dengan pendengarannya.

"Semuanya yang ada di sini. Model terbaru sampai yang tidak laku," si ibu tua menegaskan lagi.

Belum lagi rasa kaget Mei-ling menghilang, ibu tua tersebut mengeluarkan segepok uang yang jumlahnya sangat besar. Tentu saja, Mei-ling kaget. Tidak masuk akal, pikirnya.

Sambil menunggu Mei-ling merangkaikan seluruh nota penjualannya, keduanya sempat berbincang singkat. Si ibu tua menanyakan banyak hal kepada Mei-ling, termasuk kisah hidupnya, tempat kelahiran, dan tanggal lahirnya.

Setelah merampungkan semua notanya, sang ibu pun pamit sambil berpesan bahwa besok, anak-nya akan kembali ke kios, membawa mobil angkutan, memboyong seluruh dagangan Mei-ling. Tak lupa ia juga memperkenalkan dirinya sebagai Nyonya Li.

**

Malam harinya, Mei-ling tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena dagangannya yang diborong habis oleh seorang ibu tua misterius. Tapi, wajah sang ibu yang terlihat familiar.

Mei-ling mampu merasakan kehangatan yang terpencar dari auranya sejak pertama kali bertemu. Aura dari sesosok wanita yang ia rindukan selama ini.

Pikiran Mei-ling kembali ke masa mudanya. Di saat ia ditinggal pergi oleh ayah dan ibu kandungnya saat ia baru berusia sangat kecil. Ia lantas diadopsi oleh tantenya sendiri.

Namun, tidak sampai setahun, ibu angkatnya ini meninggal. Akhirnya Mei-ling dirawat oleh neneknya. Tapi, tidak sampai setahun pula, sang nenek meninggal.

Sontak warga desa pun gempar. Hanya dalam kurun waktu tidak sampai dua tahun, Mei-ling telah "memakan" korban tiga orangtua.

Seisi desa pun menganggap Mei-ling sebagai anak yang dikutuk. Tidak ada yang berani mendekatinya.

Hingga Kepala Desa yang bijaksana mengambil alih tanggung jawab. Sebelum mengadopsi Mei-ling, ia mengundang seorang ahli Fengshui kenalannya.

Menurut sang ahli Fengshui, Mei-ling harus mengganti nama dan tanggal lahir. Agar kesialan yang ia bawa sedari lahir pun bisa pergi.

Kebetulan sang kepala desa dulu pernah memiliki seorang anak perempuan yang sudah meninggal. Ia lantas memberikan tanggal kelahiran putrinya kepada Mei-ling yang merupakan nama asli dari putrinya.

**

Mei-ling bergegas ke pasar. Ia telat bangun pagi. Sesampainya di pasar, seorang lelaki tampan telah menunggunya dengan mobil mewahnya.

"Apakah kamu Mei-ling?" Tanyanya.

"Iya benar, dan kamu adalah anak dari Nyonya Li?" Mei-ling balik bertanya

"Mobil yang kamu bawa, tidak akan muat..."

"Tidak perlu, ibu meminta saya mengajak kamu ke rumah, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan." Sang pemuda berkata singkat.

"Baiklah," tanpa pikir panjang Mei-ling pun naik ke atas mobil. Tidak ada perasaan takut atau khwatir. Mei-ling mempercayai instingnya.

**

Kendaraan melaju ke kota Taipei, masuk ke dalam kompleks perumahan elit. Di hadapan sebuah rumah besar, pintu pagar terbuka otomatis. Mobil tersebut masuk ke dalam halaman yang luas, dan bergabung dengan deretan mobil mewah di dalamnya.

Sang lelaki lantas membuka pintu, dan mempersilahkan Mei-ling naik ke lantai atas, kamar paling depan.

"Ibu menunggumu di sana," pungkasnya.

Saat Mei-ling berjalan masuk ke dalam kamar, ia tidak menemui siapa-siapa. Akan tetapi sebuah foto yang cukup besar menarik perhatiannya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Foto dirinya sendiri dan Mei-ling tidak bisa mengingat kapan foto tersebut diambil.

"Apakah ada yang hilang dari hidupku?" Mei-ling masih belum bisa percaya dengan matanya.

"Dia adalah Mei-Ling, anak saya." Suara Nyonya Li mengagetkan Mei-ling.

"Ia meninggal dua tahun yang lalu. Itulah alasan, mengapa diriku langsung tertegun melihat dirimu. Engkau sangat mirip dengannya, Mei-ling".

"Dan entah mengapa, kalian memiliki nama dan tanggal lahir yang sama. Saya tidak tahu, apakah ini hanyalah kebetulan, atau memang engkau adalah dirinya yang kembali dari surga."

**

"Dugaan saya benar, kalau dari tanggal lahir dan nama ini, seharusnya ibu sudah meninggal. Saya yakin dengan itu. Apakah ibu adalah seorang dewi yang turun dari langit?" Sang peramal berujar dengan suara yang tegang.

Mei-ling tersenyum, "benar pak, saya adalah arwah orang mati."

Mei-ling tidak berbohong, karena kenyataanya memang demikian. Ia tidak lagi melanjutkan, karena memang sudah mengharapkan jawaban yang sama.

**

Sejak pertemuannya dengan Nyonya Li, sang ibu telah menjadi orangtua Mei-ling yang keempat. Selama bertahun-tahun ia merawat Nyonya Li dengan sepenuh hati hingga akhir hayat hidupnya.

Namun, tidak banyak yang tahu, termasuk Mei-ling sendiri. Saat ibunya melahirkan Mei-ling, kehidupan keluarganya sangatlah miskin. Saking melaratnya sehingga mereka tidak bisa lagi membeli makanan bagi Mei-ling dan juga saudara kembarnya.

Akhirnya, sang kepala desa pun turun tangan. Atas permintaan keluarga, ia membawa pergi saudara kembar Mei-ling secara rahasia dan "menjualnya" kepada seorang wanita kaya dari Taipei yang tidak punya anak.

Untuk mengaburkan identitas keluarga, sang kepala desa mengganti nama dan tanggal lahir saudara kembar Mei-ling dengan nama putrinya yang sudah meninggal. Tidak ada yang mengetahui kisah tersebut kecuali sang kepala desa dan kedua orangtua Mei-ling.

Kelak nama dan tanggal lahir yang sama inilah yang diberikan kepada Mei-ling. Hingga akhirnya Mei-ling juga menjalani proses yang sama. Bertemu dengan orangtua yang mengadopsi saudara kembarnya.

TAMAT

**

Acek Rudy for Kompasiana

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun