Kami terperangah. Â Kamuflase dimatikan dan di belakang gedung Indonesia Menggugat Manuk Dadali tegak berdiri dengan sayap dilipat, lalu kemudian mengepak sayap dan melayang. Daun-daun berjatuhan dengan cepat. Gedung yang kami kira dibangun serampangan itu kamuflase dari Manuk Dadali.
Bagian perut terbuka dan ada jalan virtual membuat Mak Eti, Purbaendah, Bagus, Atep dan Zia diikuti Jumhana  memasuki Guru Minda. Mereka seperti melayang lalu menghilang di dalam perut Manuk Dadali.
Teteh Ira dan Teteh Mayang berlari ke dalam dan bagian belakang gedung juga teperangah. "Kanaya!!"
Kemudian semacam hologram muncul, Kanaya muncul menghambur dan memeluk secara virtual dan lalu pergi melambai. "Selamat tinggal nini --nini tersayang, aku memutuskan ikut mereka."
Teteh Ira dan Teteh Mayang memandang dengan sedih. Sunan Ambu juga baru datang ketika Manuk Dadali melesat ke langit berwarna kemasan ditimpa matahari sore lalu melesat. Â Kami menatap mereka.Â
Petualangan Manuk Dadali dimulai. Manuk Dadali Ngembara. Pukul 17.30 menjelang matahari terbenam. Â Pesawat berbentuk garuda itu, begitu gagah mengarungi langit hingga menghilang.. Â Aku tidak suka cara Bagus dan Purbaendah pergi, tetapi di sisi lain juga menghitung merekalah harapan umat manusia yang mungkin sedang terancam. Purbasari menitikan air matanya atas kepergian saudaranya. Samuel juga menangis sambil melambaikan tangan.
"Selamat jalan kawan, Â sampai jumpa lagi."
Irvan Sjafari
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H