Penentuan padewasan melalui pananggal panglong merupakan sistem penyesuaian tibanya tilem (bulan mati) dan purnama (bulan terang) menurut perhitungan matematis dengan kenyataan posisi bulan atas matahari dan bumi.
Penanggal (tanggal) disebut pula suklapaksa yaitu perhitungan dari bulan mati sampai dengan purnama. Lama penanggal15 hari. Penanggal ke 15 disebut purnama artinya bulan sempurna nampak dari bumi. Pada momen purnama ini ialah hari ketika Sang Hyang Candra (Wulan) beryoga.
Panglong disebut pula krsnapaksa, yaitu perhitungan hari sesudah purnama yang lamanya juga 15 hari. Pangglong ke-15 disebut tilem, yang artinya bulan sama sekali tidak terlihat. Pada momentum tilem ini ialah hari ketika Sang Hyang Surya beryoga.
Penentuan padewasan melalui sasih adalah hitungan baik buruknya bulan-bulan tertentu, yang dihitung dengan berpedoman pada letak posisi matahari terhadap bumi. Apakah posisi matahari berada di Uttarayana (utara), Wiswayana (tengah) atau Daksinayana (selatan).
Penentuan padewasan menurut dauh sangat diperlukan apabila upacara-upacara yang hendak dilakukan sulit mendapatkan hari baik (hayuning dewasa). Dalam perhitungan dauh mengandung makna, bahwa dalam waktu satu hari terdapat waktu-waktu tertentu yang cocok untuk melakukan suatu kegiatan upacara.
Berikut nama bulan Kalender Saka Jawa - Masehi:
1) Kadasa (Maret-April)
2) Destha (April-Mei)
3) Sadha (Mei-Juni)
4) Kaso (Juni-Agustus)
5) Karo (Agustus-Agustus)
6) Katiga (Agustus-September)
7) Kapat (September-Oktober)
8) Kalima (Oktober-Nopember)
9) Kanem (Nopember-Desember)
10) Kapitu (Desember-Pebruari)
11) Kawolu (Pebruari-Maret)
12) Kasanga (Maret-Maret)
Bulan menurut Kalender Sunda, yakni Kartika, Margasira, Posya, Maga, Paliguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji (hampir seluruhnya nama bulan Saka India).
Tahun pertama Hijriah ditetapkan ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.
Kalender Jawa mulai digunakan di Pulau Jawa sejak tahun 1625 M saat Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin Sultan Agung. Kalender Jawa merupakan perpaduan antara Hindu, Islam dan budaya Jawa.
Pada masa Dinasti Qing, Kang Youwei (1858-1927 M), seorang reformis Ruisme mengusulkan kalender Tionghoa berdasarkan tahun kelahiran Kongzi (Kong Hu Cu). Sedangkan Liu Shipei (1884-1919 M) menolak hal itu dan mengusulkan berdasarkan tahun kelahiran Huang Di.
Liu Shipei memperkirakan tahun 2711 SM adalah tahun kelahiran Huang Di, dilain pihak Jiaoren (1882-1913 M) memperkirakan tahun 2697 SM adalah tahun kelahiran Huang Di, dan akhirnya disepakati untuk menerima tahun 2697 SM sebagai awal penanggalan Huang Di. Dari angka inilah kemudian ditambah tahun Masehi yang sedang berlangsung (2697 + Masehi) ditetapkan sebagai Tahun Imlek berlaku sejak tahun 1800an Masehi.