"Yang ada batang seruk dan banyak kemunting! Woi, Akek Bagak! Coba tengok di mana asap mengepul!"
"Mana?"
"Woi! Pakai mata kalau mencari, jangan cuma pakai mulut!"
 Bininya terpaksa berdiri di sebuah batu memanjang nan lebar di kaki bukit setelah membuat api dan menutupi dengan ilalang basah untuk menaikkan asap sebagai posisi. Akek Bagak langsung menemukan posisi bininya.
"O, sudah kelihatan. Tunggu!"
Segera ia menuruni batu dan lereng Bukit Betung. Rasa lapar memang harus diredam. Tidak ada ketenangan berpikir dalam kondisi perut diaduk rasa lapar. Itu pun dipahaminya, dan membuat langkahnya terasa ringan menuju makanan.
Bininya kembali duduk dan membuka bekal makanan yang dibungkus daun simpur. Beberapa kali terdengar kicau perbak, disusul ketutu, dan sesekali telagup (pergem).Â
 "Tidak terasa puluhan tahun, batu-batuku di pesisir-pesisir sana sudah kelihatan dari lereng bukit," kata Akek Bagak setibanya di dekat bininya.
"Tanah kita memang cocok untuk batu-batumu."
"Oh, ya, kau masak apa tadi?"
"Tadi pelepas-pelepas sekitar rumah kita dapat banyak. Puyuh, ketutu, keroak..."