* * *
Terlihat di atas bukit sana ada gundukan tanah. Di atas sana tampak terbuka, tidak ada pepohonan rimbun di sana.
"Ayo Luh.. kita ke atas sana.. Mungkin nanti akan ada orang yang melihat kita di atas sana..", Alan mengingatkan Galuh. Nafasnya hampir habis karena sedari tadi berjalan sambil membopoh Galuh.
Brukkkkk
"Aaaaaaaaarrrrghhhhhhhh.....", Galuh dan Alan berteriak bersamaan.
Mereka berdua masuk ke dalam lubang di sela-sela akar pepohonan. Lubang tersebut besar, gelap, licin berlumut, basah dan dalam.
* * *
"Coba Cok.. kamu periksa bufet-bufet sebelah sana.. aku lihat sebelah sini.. kita sisir aja dulu ruangan ini.."
"santai.. kalau soal mencari-cari barang.. Akulah zagonya.. hahahaha.. Lagian memang bufet yang ini belum sempat kujamah semalam"
Coki dan Hidayat mulai membuka pintu bufet jati satu persatu. Pernak-pernik barang antik dikeluarkan diamati. Bahkan bingkai foto yang bergambar 5 orang di dalam sebuah lemari di balik piring antik tak luput dari pengamatan Coki. Ada 3 pria dan 2 wanita dalam foto tersebut. Seperti foto priyayi-priyayi zaman kemerdekaan. Ada dua orang seperti suami istri duduk di tengah. Sementara di belakang suami istri tersebut ada 3 orang berdiri.
"Hei.. hei.. lihat ini..!!", Coki membawa foto tersebut. Dia kemudian duduk di sebelah Kurnia. Hidayat kemudian menghampiri, "Lihat orang-orang yang berdiri di belakang ini.."