"Tapi dia nggak mau kawin sama Bang Sanip, Nyak. Itulah kenapa waktu aku ke rumahnya. Midah nangis-nangis, karena meminta aku segera melamarnya," aku berusaha meyakinkan keduanya.
"Tapi demenan lu, udah dilamar orang, codot!" Babeh menimpali.
"Babeh lupa yah, sama semboyan Babeh saat mau merebut Enyak yang udah dijodohin sama orang lain. 'Selama janur kuning belum terpasang dan melambai ditiup angin. Kita masih punya harapan untuk memiliki orang yang kita cintai'Â begitu kan, Nyak..."Â Kataku, sambil melihat ke arah Enyak.
"Hihihi..." Enyak cekikikan.
"Gimana, Beh?" tanyaku kemudian.
"Yah, mau pegimane lagi. Perawan gentong aja kita perjuangin, apalagi perawan demplon," Babeh ketawa ngakak.
"Babeeeh...!"Enyak berteriak sewot.
*****
Akhirnya, hari yang menyakitkan itu datang juga. Babeh dan Enyak sudah sejak tadi menungguku berpakaian. Tapi aku sengaja berlama-lama, karena males diajak menghadiri acara ijab kabulnya, Hamidah dan Bang Sanip.
Apalagi sejak lamaranku ditolak oleh orang tuanya Hamidah, aku lebih banyak mengurung diri di kamar. Dan memilih tenggelam, dalam kesedihan yang mendalam (katanya, Naff). Hiks...!
"Eh codot, buruan. Babeh ini jadi saksinya, pan kaga enak kalau datengnya telat!" seru Babeh dari luar kamar.