Tetapi Mentari hanya tersenyum dan berkata
"Tidak usah, aku naik taksi saja sudah biasa begini, aman kok, yuk duluan."
"Oh, ya sudah, hati-hati di jalan ya," ujar Rakuti.
Sepeninggal Mentari hawa dingin yang tadinya melingkupi ruangan berangsur menghilang dan berganti dengan suhu ruang yang lebih hangat. Diliriknya meja tempat keranjang map dokumen yang belum diproses, tumpukan dokumen itu sudah habis, tinggal 1 map dokumen yang tersisa di mejanya. Rakuti mempercepat kerjanya dan akhirnya dokumen yang harus diprosesnya habis sudah.
Rakuti menggeliatkan badannya yang penat dengan perasaan lega, tugas yang dibebankan oleh Pak Adi akhirnya selesai sudah.
"Woaaah...akhirnya selesai juga pekerjaanku."
Dia mengemasi bawaannya, mematikan perangkat elektronik dan lampu kemudian turun ke Banking Hall di bawah. Setibanya di bawah, dilihatnya Pak Munir sedang berbincang-bincang dengan petugas PLN yang sedang memperbaiki travo listrik di depan kantor.
"Pak Munir saya sudah selesai, saya pulang dulu ya," ujar Rakuti sambil berjalan menuju mobilnya di parkiran.
"Oh ya Mas, silahkan," ujar Pak Munir sambil melambaikan tangannya.
Keesokan harinya, Rakuti kembali masuk kantor, dia menoleh ke arah meja kerja Ibu Gayatri, supervisornya itu belum datang juga. Diliriknya meja kerja kosong di seberangnya, meja kerja Mentari sekarang penuh dengan tumpukan kardus berisi kertas continues dan HVS.Â
Dalam acara briefing pagi, Pak Adi mengumumkan berita bahwa ketika Ibu Gayatri berangkat lembur bersama Pitaloka ke kantor, mobil yang dikemudikan Pitaloka mengalami kecelakaan tunggal menabrak pohon di pinggir jalan karena jalanan licin dan cuaca gelap berkabut akibat derasnya hujan. Â Namun Ibu Gayatri dan Pitaloka tidak mengalami luka parah yang berarti, hanya mobilnya saja yang rusak berat dan seminggu lagi sudah bisa bekerja kembali. Untuk sementara tugas ibu Gayatri akan diambil alih oleh Pak Yunus agar tidak mengganggu kegiatan kerja di unit Trade Service.