***
Profesor Jeffrey Lang tidak bergelimang dalam lingkaran ‘diskursus ateis baru’, lantaran dia telah menemukan semacam amor intellectualis yang mengalir secara bebas, cair, dan terbuka bagi pemikiran Islam bersifat kosmopolitan dalam dirinya.
Hanya dengan pengalaman batin yang mengguncang, lalu Lang menemukan Islam lewat teknik pembacaan atas teks Al-Quran. Maka terbukalah tabir gelap menjadi cahaya terang benderang menyinari batinnya, yang berlangsung secara mekanis setelah dia membaca dan memahami ulang setiap kandungan teks agama (nash) Al-Quran nan agung.
Profesor ateis itu yang memeluk Islam tidak hidup di abad kedelapan hingga abad ketiga belas, tatkala dimulai rekontekstualisasi Al-Quran, yang dibangun oleh intelektual Islam.
Tidak mungkin sang profesor ateis menyenangi sebuah proses rekontekstualisasi atas teks agama yang di bawah bayang-bayang mitologis dan tirani. Dia menutup pintu-pintu mitologi dan tirani itu dalam pemahaman atas teks agama hingga menemukan Islam.
Makin sering mengulang dalam pembacaan teks Islam yang mendasar dengan tetap masih berada dalam penyelidikan kritis, maka dia akan makin menemukan misteri kehidupan yang telah dibentangkan melalui teks agama.
Dalam teks Al-Quran bukan hanya sebagai satu-satunya sumber inspirasi yang terpelihara, terpenting, dan mendasar untuk dipegang dan dipelihara, tetapi juga menjadi penanda kehidupan, petunjuk bagi orang-orang yakin dengan kekuatan nalar dan jiwanya tentang masa depan kehidupan yang abadi.
Amor intellectualis dalam eksistensi Tuhan mengalir melalui pembacaan atas teks Al-Quran secara teliti, tulus, dan terbuka, yang digeluti oleh pembaca dan membuat profesor ateis itu telah menemukan esensi kehidupan.
Dalam teks Jeffrey Lang, Brothers, I Lost Him (“Saudara, Aku kehilangan Dia.”). Satu ungkapan penuh belas kasih dan cinta dalam ketidakhadiran makna. Ungkapan itu memulai titik pendahuluan dalam Even Angels Ask: A Journey to Islam in America (1997 : 1). Satu-satunya sisi kehidupan tanpa kebencian dan kekerasan adalah makna kehidupan sejati yang didambakannya.
Siapa yang menduga Jeffrey Lang, profesor ateis menjadi Muslim. Dia sendiri menanyakan “mengapa” dan “bagaimanan caranya” memadukan spritualitas, intelektualitas, dan rasionalitas dari ‘Realitas Tertinggi’ berhadapan dengan disiplin ilmiah atau kebenaran matematika tidak tergoyahkan dalam perjalanan hidupnya. Brothers, I Lost Him merupakan jeritan jiwanya.
Perenungan pribadi Lang menemukan cakrawala baru tentang Tuhan, yang menghubungkan pemikiran baru melalui penafsiran ulang atas teks Al-Quran dalam konteks kehidupan modern.