Tetapi juga, sebagai subyek bebas yang tidak menjadi obyek korban dari logika pertukaran. Eksistensi Tuhan hanyalah efek dari jejak dan tanda ateis.
Siapa gerangan yang dimaksud profesor ateis itu? Dialah Jeffrey Lang. Tahun itu, 30 Januari 1954, dia lahir dari latar belakang sebuah keluarga Katolik Roma.
Tradisi yang diwariskan dalam bidang pendidikan bernuansa agama berlangsung di usia 18 tahun pertama. Hidupnya dihabiskan secara otomatis di sekolah Katolik.
Seperti lazimnya, selain bertemu dengan pemuka agama, dia menjalin pertemanan dari latar belakang agama yang sama.
Disitulah, tema tentang eksistensi Tuhan dan agama digugat dalam pertanyaan-pertanyaan, yang tidak pernah berhasil dijawab secara gamblang.
Pertanyaan tentang eksistensi atau tidak ada eksistensi Tuhan dan pengalaman agama menjadi titik pembicaraannya.
Marilah kita memerhatikan sekilas apa yang dia alami. Dalam penjalanan diri untuk mencari makna kehidupan, Profesor Jeffrey Lang mungkin mencoba menyelami sintesa intuisi intelektual dan cinta intelektual terhadap Tuhan dalam sudut pandang yang lain.
Siapa yang menyangka Jeffrey Lang, di usia 18 tahun dia telah menjadi ateis tulen?
Sekian banyak pertanyaan menggelayuti intuisi intelektual dan dunia batinnya. Mimpi yang indah telah terkabul dalam sujud, dalam linangan air mata. “Aku jauh, Engkau pun Jauh.” Mimpi itu adalah jejak dan tanda keilahiaan murni. 360 derajat berubah dalam keheningan dan tanda kegilaan atas Tuhan telah mengubah hidupnya menjadi Muslim. (yeniasya.com, 2019/07/09)
Sebelum bergelar profesor matematika kondang, sepuluh tahun lamanya dia telah menjalani kehidupan menjadi sosok ateis. Bukan berarti dia sebagai sosok ateis yang diam dan bertopang dagu.
Karena itu, sang profesor termasuk sosok ateis yang gelisah terhadap kehidupan, eksistensi Tuhan, dan pemikiran yang terbentuk didalamnya. (islamonline.net, 2022/04/20)