"A-pa maksudnya?" Nilam menatap Diar was-was.
"Mungkin mobil ini kehabisan bahan bakar. It's oke, kami bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki." Diar siap-siap melompat turun.
"Bukan kehabisan bahan bakar, Kak. Tanki mobil ini penuh. Tadi sebelum berangkat sudah saya isi." Jack mengutak-utik kabel di dekat kakinya. Kemudian ia mencoba memutar kunci starter. Tapi mobil tetap diam tak bereaksi.
"Sepertinya mobil ini mogok berat. Saya minta maaf, ya, Kak. Saya cuma bisa mengantar kalian sampai di sini," Jack melompat turun dan menjura. Kali ini juranya lebih lama dan dalam.
Diar mengangguk seraya meraih ujung lengan Nilam. Ia sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ya. Ia harus sampai di lereng lembah sebelum hari berubah gelap.
***
Bunyi tonggeret mulai bersahut-sahutan. Menandakan siang segera bertukar tempat dengan petang.
"Masih jauh, tidak?" berkali Nilam bertanya begitu. Dan berkali pula Diar menjawab dengan anggukan.
"Aduh, ada apa pula dengan kakiku ini!" Tiba-tiba Nilam menjatuhkan diri di atas rerumputan. Diar yang berjalan mendahuluinya spontan ikut berhenti.
"Coba buka sepatumu, Ni." Diar berjongkok, menyentuh lutut Nilam beberapa saat.
"Kakimu mengalami kram, Ni. Sebaiknya istirahatkan dulu di sini. Berselonjorlah dengan santai." Diar mengeluarkan obat gosok dari dalam tas pinggangnya. Lalu hati-hati jemarinya memijit kaki gadis itu.
"Seharusnya aku mendengar nasihatmu, ya, Tuan gondrong. Toh keberadaanku cuma merepotkanmu ...."