***
Di gerbang perbatasan desa, seorang pemuda bertubuh kurus, berambut ikal, mengenakan masker merah menyala menyambut kedatangan mereka. Pemuda itu melambaikan tangan, memandu Diar agar memarkir kendaraannya di tanah lapang yang bertuliskan Lembah Ayu Pos 1.
"Selamat datang, kakak-kakak. Saya Jack. Saya yang akan menemani perjalanan kalian." Pemuda itu menjura begitu melihat Diar dan Nilam keluar dari mobil.
Setelah berbincang-bincang sejenak dengan pemuda yang mengaku bernama Jack itu, mereka berjalan menuju Jeep yang sudah dipersiapkan.
"Saya hanya mengantar sampai separuh perjalanan, ya, Kak. Sebab medan selanjutnya hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki." Jack menjelaskan sebelum melompat mendahului masuk ke dalam Jeep.
"Kok hanya separuh perjalanan?" Nilam menatap Diar was-was.
"Kan sudah kubilang..." Diar berusaha menekan kalimatnya. Ia balas menatap Nilam, mencari-cari sesuatu di kedalaman mata gadis itu.
"Eits, jangan bilang kau menyesal telah membawaku ke sini, ya, Tuan gindrong." Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kekasihnya itu Nilam menyela tegas.
Dan Diar memilih tidak memperpanjang kata-katanya. Sebab ia tahu. Menghadapi makhluk bernama perempuan para lelaki memang sebaiknya mengalah saja. Karena jika tidak, mereka bisa menghadapi masalah jauh lebih pelik dari sekadar menerobos jalanan yang macet.
***
Di dalam Jeep Diar mengamati sekali lagi peta lokasi Lembah Ayu yang akan mereka datangi. Dari desa tempat ia memarkir mobil tadi jarak tempuh berkisar 20 kilometer. Tidak seberapa jauh sebenarnya. Tapi karena lokasinya berada di ketinggian dan kondisi medan lumayan sulit, perjalanan diprediksi bisa memakan waktu lebih lama.
"Kakak baru pertama kali datang ke Lembah Ayu ini, ya?" Jack menatap Diar melalui kaca spion yang tergantung di atas kepalanya.
"Iya, benar." Diar mengangkat dagu sedikit.