" Mungkin ada alasan tertentu yang tidak bisa dia ungkapkan mengenai hal ini, sudah ca jangan belarut-larut dalam kesedihan, sekarang kita belajar aja dengan baik sebentar lagi kan ujian" kata aeni menasihatiku.
Semenjak itu aku langsung mencari tau semua hal tentang diza lewat akun facebook. Aku meminta pertemanan kepadanya. Sekitar satu bulan tiap pulang sekolah aku mengecek ke warnet namun belum ada konfimasi dari diza. Baru sekitar enam bulan sudah berlalu aku kembali membuka akun itu, ternyata diza menerima nya. Aku bahagia dan langsung chat kepadanya karena kebutulan dia sedang online.
Aku : " Assalamualaikum...."
Diza : " Siapa yah???"
Aku : " Coba tebak"
Diza : " Saha sih maneh meni gj" ( Siapa sih kamu , gak jelas)
Aku : " Meni kasar diza, ini aku finza"
Diza : " Ohhh"
( meninggalkan obrolan)
Baru saja sebentar percakapan kami sudah langsung ia tutup saja. Dia masih membenciku begitulah pikiranku saat itu.
Namun dalam hati aku bertekad untuk tetap mencintainya. Diza gak peduli bagaimanapun kamu benci, kamu mengabaikanku, perasaanku akan tetap sama. Perasaan yang sedari awal sudah menggetarkan hatiku lewat lantunan suara adzanmu. Perasaan yang baru pertama kali aku rasakan saat aku masuk kedalam kelas hari pertama itu. Perasaan yang pertama kali aku rasakan kepada lawan jenis.