“Kami memaafkanmu, Hima. Kami tidak mungkin tidak memaafkanmu. Apalagi kamu meninggalkan rumah untuk mencari peruntungan, untuk menyelamatkan keluarga kita, namun sekarang suasananya sudah sedikit berbeda. Abang juga minta maaf...”
“Ini Mak Mun, tetangga kita dulu. Ia yang menyelamatkan hari-hari Abang agar bisa bertahan sepeninggalmu. Bertahan menjaga Hisyam agar dia bisa tumbuh seperti saat ini – menjadi seorang dokter, seperti yang kita cita-citakan dulu,” ujar sang suami dengan nada sedikit bersalah.
“Saya paham. Abang tidak bersalah, saya yang terlalu emsional. Waktu itu saya tidak mau kehilangan orang yang saya cintai. Saya lupa, saat saya memutuskan pergi, saya malah sudah pasti kehilangan dua orang yang sangat saya cintai,” ujar Rayhima tergugu.
***
Rayhima kembali mendekap tas merah bata itu. Kali ini dekapannya lebih erat untuk menyamarkan suara tangisnya yang tak berkesudahan. Ia kembali mengarungi Selat Malaka itu. Ia kembali ke Singapura. Ia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya disana. Rayhima tidak mau lagi mengacaukan keluarga yang sudah dibangun suaminya dengan susah payah. Biarlah ia mengalah, membiarkan suami dan anak bungsunya hidup berbahagia di Batam bersama Mak Mun.
Ia sudah putuskan, saat sampai di Harbourfront, ia akan langsung memasukan tas yang berisi barang-barang kenangan selama hidup di Batam itu ke kotak sampah. Biarlah barang-barang kenangan tersebut hilang dan menjadi serpihan kecil.
“Mak, sudah sampai,” kata putrinya.
“Come on, Grandma,” kata cucunya sambil membimbingnya keluar dari kapal ferry tujuan Batam-Singapura. (*)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI