“Katakan, Dana,” bayang kelabu mewarnai wajah Daan. “Haruskah aku bersyukur karena kau tidak menjadi korban kelima, atau aku harus menamparmu atas nama Kakak ipar?”
Dana tak mampu menjawab pertanyaan adik-kembarannya itu. Ia ingin saja memohon untuk menyelamatkan rumah tangganya, namun rasa bersalah memaku lidahnya.
Daan memandang iba Dana. “Untuk kali terakhir. Tapi berjanjilah, buang gairahmu pada istrimu sendiri.” Daan melangkah keluar kamar, ia yakin Dana telah mendapat hukuman lebih daripada cukup.
“Baiklah Nona Dian.”
Daan harus menginterogasi pelaku, bukan untuk penangkapan karena hal itu sudah pasti, lebih kepada motif gadis 28 tahun tersebut. Di dalam ruangan empat kali enam meter persegi, hanya ada satu meja panjang dengan dua kursi. Satu kursi diduduki Daan, satunya lagi di seberang meja, diduduki Dian.
Dwipa dan beberapa petugas lainnya, menyaksikan “sesi” tersebut dari balik kaca persegi di dinding sebelah kanan Daan. Kaca antipeluru yang hanya bisa melihat dari sisi luar saja.
“Kenapa harus mengeringkan darah korban?”
“Kau tidak ingin bertanya; kenapa harus memotong penis mereka?”
Daan terkekeh, memantik sebatang rokok. “Kaumerokok?” Daan melemparkan bungkus rokok menthol ke atas meja, meluncur ke arah Dian berikut dengan pemantiknya. “Lupakan itu. Kau bukan perempuan pertama yang memotong kemaluan pria, jadi—“ asap putih mengepul dari mulut Daan. “—Aku lebih tertarik soal darah.”
Dengan kedua tangan yang disatukan oleh borgol, Dian mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannnya. “Aku femme yang menyukai femme.”