Tapi baru saja Kristi sampai di pintu depan...
"Eh, ya, Nduk. Pak Arman itu punya anak bujang polisi juga, lho. Semoga aja kamu berjodoh dengannya, ya?"
Kristi mendadak kaget. "Eh, maksud Bapak apa?" gumamnya sambil geleng-geleng kepala dan bergegas meninggalkan rumah menuju Asrama Brimob bawah.
***
Pasca acara bagi rantang itu, rumah Pak Suwondo alias rumah orangtua Kristi acap kali kedatangan seorang polisi muda bernama Girianto.
"Kamu mau apalagi kemari?" Ketus Kristi menyambut kehadiran Girianto malam ini. Soalnya, pemuda itu memiliki begitu banyak alasan untuk bisa datang ke rumahnya. Mulai dari mengembalikan rantang Ibu, menyampaikan pesan Pak Arman kepada Bapak, balas mengirimkan rantang, dan entah apalagi.
"Aduh, jutek amat, Neng. Ntar keliatan tua, lho!" Girianto mencoba mencairkan suasana dengan berkelakar. Tapi sayang, Kristi bukanlah tipikal gadis yang mudah luluh hati didekati oleh pemuda ganteng berpangkat bintara itu. Buktinya, ia tetap bergeming walaupun Girianto mulai melancarkan rayuan mautnya.
"Hei, senyum, dong? Masa aku main ke sini dikasih asem, sih?"
"Udah ngerayunya?" ucap Kristi seraya berdiri.
"Lho, lho, kamu mau ke mana?" Girianto terlihat panik melihat Kristi yang menguap dan bersiap masuk ke dalam rumah.
"Aku ngantuk. Pengen tidur."