"Tapi, aku kan baru datang...."
"Bodo!"
Saat Kristi hendak melangkah ke dalam rumah, tiba-tiba saja Bapak sudah keluar dan berdiri di dekat pintu depan. "Nduk, ndak baik, lho, menolak pemuda sebaik Nak Girianto. Apalagi sekarang malam minggu. Kalo emang kalian mau jalan, sana gih Bapak izinkeun. Tapi ingat, jam 10 udah harus balik, ya?"
Kristi pun heran. Padahal biasanya Sang Bapak terkenal galak kalau melihat anak gadisnya itu didekati oleh laki-laki. Tapi ini kok...?
"Eh, iya, Om. Saya memang bermaksud ngajak Kristi nonton. Boleh, ya, Om?" Mendapat dukungan dari Pak Wondo - bapaknya Kristi, Girianto pun tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Oh, yo, monggo. Pokoknya jam 10 udah harus sampe di rumah," kata Bapak lagi, sekadar mengingatkan.
"Siap, Komandan!" Girianto pun bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat ala militer kepada lelaki paruh baya yang berdiri di hadapannya itu.Â
Kini, tinggal Kristi yang merana pasrah menerima nasib.
***
"Harusnya lu tuh bersyukur, Ti," ucap Indah, saat Kristi bermain ke rumahnya sekalian bercerita tentang Girianto yang rajin main ke rumah Kristi. Beruntung, Jakarta cerah dalam sepekan ini. Sehingga Indah bisa bernapas lega terhadap ancaman banjir yang kerap menghantui rumahnya.
"Maksudnya lu bersyukur, apa, nih, Ndah?" Kristi balik bertanya kepada Indah. Ditatapnya mata sahabat kecilnya itu. Teh manis hangat yang terhidang di atas meja dan seyogyanya hendak diseruput, urung dilakukannya.