"Nomornya ga aktif," ucap Ales semakin panik.
"Kita ga tahu di mana alamat rumahnya yang dulu. Kamu terus coba hubungi dia, aku akan ke sekolah untuk mencari alamat Vivie di arsip siswa," ucap Yansen.
Ales menganggukkan kepalanya, Yansen dengan cepat melajukan mobilnya menuju sekolah. Di kejauhan seorang wanita tua tampak memperhatikan mereka dengan senyuman jahat.
****
Malam itu Vivie duduk dalam diam memperhatikan Papanya yang hilir mudik di depannya. Mereka baru saja tiba di rumah mereka yang dulu.
"Kenapa sih Pa kita pindah dadakan gini? Bukannya kita udah mulai nyaman di Bandung?" tanya Sandi.
"Iya Pa, kalau kita balik lagi ke sini terus kerjaan Papa gimana?" tanya Mamanya.
"Maafkan Papa. Papa terpaksa ngelakuin ini karena Papa ga mau kalian celaka," jawab Papanya.
"Maksud Papa apa? Kita baik-baik aja kok di sana," tanya Yola.
"Semua ga sebaik yang kalian pikirkan. Papa melihatnya sendiri sosok bertopeng aneh itu," jawab Papanya.
"Sosok aneh? Siapa Pa?" tanya Mamanya.