Sebuah bentak menyentak Sukma dari pergulatan angannya, juga tarikan di tangan kanan, yang nyaris membuatnya tersuruk ke depan.
“Lari sukma! Kita sudah ketahuan…!” ternyata tangan kiri yang barusan menariknya, membuat Sukma gugup dan terserimpet rok yang dipakainya.
“Danar! Zaldy! Kerahkan tim 13 untuk menangkapnya hidup atau mati!” raung Lurah Sadikin penuh kemarahan. “Dan kau Savitri! Siapkan pedupaan khusus untuk mengacaukan pikirannya agar tersesat kembali ke sini! Juga perintahkan Mbah Suro membawa ramuan pelenyap jasad untuk menghilangkan barang bukti!”
“Dan aku tak ingin kejadian Salim Kancil terulang lagi!” pekik Lurah Sadikin dengan murka tak terkira.
Akhirnya Sukma paham apa yang terjadi. Ternyata semua kegilaan ini buah perbuatan Lurah Sadikin, yang tak ingin kegiatan tambang emas ilegal berkedok penelitiannya di Pulau Warna Darah terendus media. Dan Sukma adalah orang pertama yang membuat reportase tentang hal itu di media warga!
Tapi semuanya sudah terlambat. Jarak antara dirinya dengan tim 13 Lurah Sadikin semakin rapat.
“Kau pergilah dahulu menyelamatkan diri,” bisik Sukma kepada telinga dan lengan kirinya yang melayang di depannya, bersamaan dengan bajunya yang dijambret dari arah belakang.
Tak ingin seperti Salim Kancil yang diseret maut sepanjang jalan menuju kelurahan, Sukma memberontak sekuat tenaga, membuat bajunya terkoyak cukup besar.
Kembali Sukma berlari, hingga sebuah hantaman benda dingin menghajar leher belakangnya, membuat lehernya berderak patah dan menggelinding ke tanah.
Tapi Sukma terus berlari. Berlari dan berlari. Dia merasa harus menuntaskan artikelnya tentang penambangan emas liar di Pulau Warna Darah ujung paling timur Pulau Jawa, karena telah mulai memakan korban warga sekitar yang berdemo menentangnya.
Sebuah sabetan kembali mengenai sukma, membuat lengan kanannya keple sebatas siku, sebelum akhirnya tertebas putus.