Sekarang di kota itu, sudah berdiri tujuh SMA negeri. Sudah pasti jumlah SMP jauh lebih banyak.Â
Belum lagi sekolah swasta yang tak mau kalah dengan sekolah negeri. Bila perlu lulusan sekolah swasta bersaing dan jauh lebih unggul.
Maka adalah hal yang wajar bila biaya pendidikan anak di sekolah swasta favorit lebih mahal.Â
Padahal mahal atau tidak mahal itu sifatnya relatif. Mahal untuk kalangan tertentu, tapi tidak jadi masalah untuk sebagian orang tua yang lain.
ibarat hotel bintang 5 dan bintang 3. Walau biaya nginap permalam di hotel bintang lima ratenya dua kali atau tiga kali bintang tiga, tetap aja ada tamunya.
Kita juga tidak bisa menghindari banyaknya sekolah swasta baru yang dibuka untuk beraneka jenjang. Institusi pendidikan juga sebuah entitas bisnis.Â
Selain bisa menampung para calon siswa yang memang tidak bisa seluruhnya ditampung di sekolah negeri, adanya preferensi dan gengsi sosial juga menjadi pilihan yang dipilih orang tua siswa.
Alasan itulah yang mendasari mengapa nasabah saya di atas memilih dari awal menyekolahkan dua anak laki lakinya ke sekolah swasta.
"Jarak dari rumah dekat bisa jalan kaki. Sekolah unggulan juga. Cuma dari awal ngga kepikiran akan ada tambahan biaya ini dan itu," begitu alasan si istri debitur.Â
Satu fakta lain yang juga tak bisa ditampik adalah laju pertambahan penduduk dari dekade ke dekade. Bak deret ukur. Ibarat dua menjadi empat lalu empat jadi delapan dan seterusnya.
Otomatis dengan makin manusia beranak pinak, tentu butuh sekolah lebih banyak agar bisa menampung calon - calon siswa yang juga semakin banyak.Â