Asap ini jelas mengganggu kesehatan. Juga mengganggu jarak pandang pengendara.
Semakin banyak sampah makanan yang masuk, pemicu gas untuk menghasilkan energi jelas semakin besar. Maka, tak heran, kalau kebakaran di lokasi tempat penampungan sampah ini rentan terjadi.
Silakan dibaca beritanya dari sumber ini.
Bayangkan jika setiap Sabtu dan Ahad, hari favorit orang hajatan, sampah makanan yang dihasilkan lebih dari seribu ton. Berapa juta butir nasi yang masuk ke lokasi sampah ini.Â
Berapa ton sampah dari daging ayam, daging sapi rendang, sayuran dalam sop, dan sisa buah dalam minuman yang masuk tempat sampah.
Itu semua pasti berdampak pada semakin berbahayanya tempat sampah dari ancaman kebakaran. Ditambah lagi, edukasi untuk mengolah sampah sejak dari rumah belum bisa dipraktikkan secara masif. Termasuk juga belum ada pemisahan yang ketat antara sampah organik dan nonorganik.
Dari sini tentu penting upaya untuk mengedukasi tamu dan undangan saat hajatan. Tidak hanya kondangan dalam skala besar di gedung dengan massa sampai ribuan.
Kala ada hajatan di skop rumah dan hanya dihadiri belasan atau puluhan orang, pesan untuk menghabiskan makanan ini selalu relevan didengung-dengungkan.Â
Tuan rumah tidak boleh malu untuk meminta tamu menghabiskan makanan yang ia ambil. Jangan menyisakan sebutir nasi pun.Â
Jangan sisakan sepotong sayur pun. Berikan edukasi bahwa mubazir itu tidak baik dan jauh dari rahmat Allah swt.
Jika diringkas untuk edukasi kepada tamu dalam hajatan ini, ada beberapa tips. Saya ringkas dari uraian di atas sebelumnya.