Para cucu duduk melingkar, menghadap Omah yang sedang relaksasi di kursi. Dadang pun menyolek tangan Omah, lalu menggodanya. Dengan bercanda, ia memohon kepada Omah, agar beliau berkenan memberikan dongeng seperti yang mereka alami semasa kecil.Â
"Mah, Omah, jadi rindu deh denger dongeng Omah, kayak waktu kita masih kecil dulu," ucap Dadang bahagia memulai pembicaraan.
"Iya Omah, dongengin lagi dong, cerita favorit kita itu loh Mah," lanjut Ajeng antusias.
Sujoni menyambung terheran, "Yang mana sih, kok aku lupa ya?"
"Yaudah, mending denger ulang cerita Omah aja deh, nanti nggak seru kalo gue yang nyeritain," Ajeng menjawab sembari tertawa kecil dan melirik tipis Sujoni.
Mengetahui antusiasme cucunya, Sang Omah pun bersedia untuk menceritakan kembali kisah tersebut kepada mereka. Selain sebagai hiburan keluarga, ini kesempatan yang bagus buat Omah untuk recalling, guna melatih daya ingat dan menghambat kepikunannya.
"Hehehe," suara tawa serak seorang lansia.Â
"Baik kalau gitu, apa sih yang nggak buat kalian. Jadi, semua itu berawal dari..........," lanjut Omah memulai kisahnya.  Â
***
Jadi, kisah ini berawal dari sebuah latar, kawasan kumuh di tengah kota yang padat akan pemukiman penduduk. Saluran irigasi seringkali ditemukan tidak lancar, karena pendangkalan dan terhambat oleh sampah masyarakat yang melimpah ruah.Â
Begitu juga area Mandi Cuci Kakus (MCK). Para penduduk terutama, kurang memerhatikan kebersihan dari jamban mereka masing-masing. Tak heran banyak jamban yang tampak sudah mampet, hingga kotoran dari dalam terlihat melayang di atas lubang closet. Maka dari itu, yang menjadi penolong bagi mereka adalah keberadaan jamban umum, berjejer tiga kamar, yang terletak pas dipinggir jalan.Â