"Ya ... ya ... Mas, maafkan aku," kataku sekali lagi dan mencium kedua tangannya.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Mas Ishak pun segera meninggalkanku sendiri di ruang tengah itu.
Seorang laki-laki yang belum kukenal datang ke rumah. Mungkin dia kenalan Mas Ishak. Keduanya pun terlibat percakapan serius. Aku ke belakang dan membuatkan segelas teh hangat untuk tamu. Segera kuhidangkan dan mempersilakan tamu itu untuk menikmatinya.
Mas Ishak memberi isyarat padaku agar segera berlalu dari ruang tamu.
Sekitar setengah jam kemudian, tamu pun pulang. Setelah tamu pergi, tampak Mas Ishak mencari-cari sarung tangan kain yang biasa digunakan saat kerja bakti, dan penutup kepala seperti ninja. Dia tampak sibuk mengobrak-abrik isi lemari.
"Cari apa, sih, Mas? Bisa kubantu?"
"Nggak usah, ini urusan lelaki! Sudah kamu pergi sana, malah ganggu nanti," jawab suamiku agak ketus.
Sejak sore, hujan mengguyur desa hingga sungai penuh dengan air, bahkan membludak. Menjelang pukul sembilan malam, hujan baru reda. Suasana sangat sepi dan dingin. Rasa kantuk pun mengajakku segera memeluk bantal. Mas Ishak masih setia menunggu acara TV malam itu.
Menjelang tengah malam, aku pun terbangun. Mas Ishak tidak ada di sampingku. Aku berusaha mencarinya ke kamar mandi, barangkali sedang buang hajat. Namun, dirinya tidak kutemui juga. Hatiku mulai resah. Aku masuk ke kamar Anam, anakku, barangkali Mas Ishak ada di sana, tetapi nihil.
Seingatku, dia tidak akan bepergian malam hari. Aku terduduk di kamar depan sambil menunggunya. Mungkin sedang berada di luar untuk mencari udara segar. Resahku pun makin menjadi, setelah pagi hari Mas Ishak tidak aku jumpai juga.
Saat membeli di tukang sayur, kudengar bisik-bisik beberapa ibu yang membicarakan pencuri di rumah Den Tejo, tetangga desa. Rumah kuno dan mewah milik Den Tejo yang penuh dengan barang antik telah dimasuki pencuri. Namun, dari berita yang masih simpang siur itu, aku pun menjadi kaget karena ternyata pencuri barang antik itu salah satunya adalah Mas Ishak.