Lewati pukul sebelas. Lantunan alqur'an terdengar dari masjid. Abak masih tidur. Pipinx hilang. Kukira mengungsi ke kamar lain. Di ruang tamu tinggal bertiga. Amak banyak bertanya tentang kuliahmu. Aku diam menyimak, dan tetiba kau ajukan tanya padaku.
"Mas! Hari ini gladi resik, kan?"
"Iya. jam dua!"
"Pakai toga dan jubah?"
"Gak!"
"Jubahnya belum Nik setrika! Kalau..."
"Nanti dijemput!"
Aku tersenyum. Amak diam menyimak. Wajah ingin tahu terpampang jelas. Amak menatapku.
"Kenapa pinjam ke Nunik?"
"Haha..."
"Jawab Amak!"
"Punya kampus. Jubahnya kebesaran. Nik bantu kecilkan!"
"Bikin repot!"
"Nik yang mau, Mak!"
Kalimatmu selamatkan aku. Amak tersenyum menatapmu. Kau tertunduk. Aku tertawa. Lega. Awalnya kukira sukar bagimu, berhadapan dengan Amak. Aku tak tahu. Berapa kali kau bertemu atau berapa banyak suratmu untuk Amak. Pagi itu. Kau ambil alih posisiku. Sebagai anak.
"Acara apa, tadi?"
"Gladi resik, Mak?"
"Itu..."
"Latihan. Biar besok lancar!"
"Di Kampus?"
"Iya! Amak ikut?"
"Boleh?"
"Yang larang Amak. Aku hajar!"
Amak menatapku. Terkejut mendengar jawabku. Matamu mendelik. Aku lupa, Amak tak pernah dengar kalimat seperti itu. Aku tertawa. Sembari garuk kepala.
"Ikut, Mak?"
"Tapi kau ada acara?"
"Nunik yang temani! Sekalian jalan-jalan?"
Kau menatapku. Amak menatapmu. Aku memilih diam. Menunggu keputusan. Perlahan kau anggukan kepala. Amak tersenyum. Aku tertawa.
Abak hadir di ruang tamu. Sudah rapi. Kukira bersiap pergi sholat jum'at. Tapi Abak duduk di sebelah Amak. Reaksimu segera melihat jam di tanganmu.
"Hampir pukul dua belas, Mas!"
"Hah?"
"Mas gak pergi?"
"Abak yang salah! Kan, waktu sholat di Curup. Lebih cepat dari Padang!"
Abak menjawab sambil tertawa. Tak lagi bicara. Aku bergegas ke belakang. Bersiap untuk sholat jum'at. Meninggalkanmu, bersama Amak dan Abak di ruang tamu.
Agak lama. Senyummu, lebih tepatnya tawamu menyambut hadirku di ruang tamu. Aku melotot. Ajukan kepalan tinju. Kau tertawa lepas. Namun segera menutup mulutmu. Abak sudah pergi ke masjid. Amak menatapku.
"Kenapa ajukan tinju?"
"Tanya Nunik!"
"Nik?"
"Nik belum pernah. Lihat Mamas pakai baju koko, Mak!"
Kau tertawa. Amak geleng kepala. Tak mengerti, tapi tertawa. Suara azan sudah terdengar dari masjid. Aku berdiri di dekat pintu.
"Pergi, Mak!"
"Iya!"
"Titip Nunik!"
"Haha..."
"Jangan sampai hilang!"
"Sudah! Pergi sana!"
"Butuh sembilan tahun..."
"Iya! Pergilah!"
"Mendapatkannya susah!"
"Hei!"
"Amak mau, kan? Kalau Nunik jadi..."
Kalimatku tak selesai. Kau berdiri. Mendorongku dan segera menutup pintu. Sambil tertawa. Kuteriakkan salam dari luar rumah.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI