"Nikmatilah waktumu sekarang, saat masih sendiri. Karena, saat kamu tidak sendiri lagi, semua akan berbeda. Semua ada waktunya, ia akan datang saat kamu dianggap memang sudah 'siap' menjalani."
Dalam hal "kesiapan", kata-kata Rie ini, sedikit banyak mengingatkanku pada kata-kata teman-temanku yang lain, terutama saat mereka tahu aku hidup sendirian di ibukota.
"Dengan kondisi tubuhmu yang begini, ini adalah satu keajaiban. Bukan, kamu memang sudah 'siap'."
Dua hal ini sungguh melegakan, karena pada akhirnya membuatku sadar, meski saat ini masih sendiri, aku hanya perlu menjalani semuanya. Seperti lirik yang dinyanyikan dalam lagu "Sendiri".
Sendiri berjalan
Di tengah malam nan sepi
Kian jauh melangkah
Semakin gelisah
Sendiri termenung
Di larut malam nan hening
Hatiku s'makin gundah
Oh mata membasah
Bayu dingin lalu
Dan bintang mengedip sayu
Rembulan menyuram
Tiada terbayang harapan
Sendiri melangkah
Di jalan remang membisu
Kunanti engkau sinar
Bersama sang fajar
Sendiri termenung
Di larut malam nan hening
Hatiku s'makin gundah
Oh mata membasah
Bayu dingin lalu
Dan bintang mengedip sayu
Rembulan menyuram
Tiada terbayang harapan
Sendiri melangkah
Di jalan remang membisu
Kunanti engkau sinar
Bersama sang fajar