Tak jauh dari pondok, terdapat juga tanur tungku api pelebur bebatuan untuk membuat bahan baku logam. Jaka someh ternyata membuat sendiri berbagai peralatan seperti golok, cangkul, wajan dan berbagai peralatan lainnya yang terbuat dari logam.
Dewi Sekar juga merasa heran dan takjub ketika melihat sebuah peralatan tenun yang tak jauh dari  pondok. Ternyata Jaka Someh juga adalah seorang penenun. Ada beberapa pakaian yang sudah jadi. Meskipun bentuknya sederhana, namun hasil jahitannya terlihat cukup rapi.Â
Jaka Someh membuat bajunya sendiri setelah berhasil menenun kapas menjadi buntalan benang hingga jadi kain-kain yang sederhana.
Di sekitar alat tenunnya, masih terlihat beberapa karung kapas yang masih utuh. Meskipun sebagiannya sudah berubah menjadi pintalan benang.
"Hebat...Kang Someh...Dia adalah seorang manusia yang terampil dan mandiri"
Dewi Sekar bergumam pelan.
Tanpa terasa sekarang sudah hampir tiga minggu Dewi Sekar berada di pondok Jaka Someh.
Dewi Sekar kembali ingat akan Ayahnya yang akan diserang oleh gerombolan Ki Jabrik. Hatinya kembali dipenuhi rasa was-was dan kekhawatiran.
Meskipun belum seratus persen sembuh namun karena kawatir dengan keselamatan keluarganya, dia memutuskan untuk segera pulang. Pada suatu kesempatan Dewi Sekar menyampaikan niatnya tersebut kepada Jaka Someh,Â
"Kang Someh, saya berterima kasih telah di tolong dan di rawat di sini, akang  sudah begitu baik terhadap saya...saya benar-benar minta maaf karena telah merepotkan akang selama di sini".Â
Jaka someh tertawa mendengar perkataan Dewi Sekar