"Terus terang, dia memang cantik!" sahutnya mengakui. Dari nada suara suaminya, Alena jadi ingin melihat langsung bagaimana wajah gadis yang membuat putranya harus membatalkan pertunangannya dengan Nancy. Bukankah Nancy juga cukup cantik?
Dimas sengaja ijin tidak masuk sekolah, ia ke tempat Erik. Berencana akan kembali mencari Sonia jika hingga siang gadis itu tidak nampak. Erik juga ijin kerja. Sementara Gio, Ian dan Bayu tetap masuk sekolah.
"Bagaimana ini Rik, dia bahkan belum kembali. Nomornya sama sekali tidak aktif!" cemas Dimas.
"Kita cari lagi ke seisi kota, Sonia nggak mungkin meninggalkan ibukota. Jika kita belum menemukannya juga, kita lapor polisi saja!" usul Erik.
"Itu ide yang bagus, ayo...tunggu apalagi!" antusias Dimas, ia segera berjalan ke motornya. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah motor yang cukup ia kenal mendekat. Dan yang duduk di jok belakang itu...
SONIA!
Jadi benar, dasar brengsek!
Motor itu merapat. Sonia segera turun, Dimas sudah memasang wajah cemas, bahagia, geram bercampur kadi satu. Ryan sudah mengulum senyum nakal sedari balik helm hingga helm itu terbuka. Ia ikut turun juga.
Sonia diam menatap Dimas yang berdiri tak jauh darinya. Mata mereka beradu, ada perasaan yang tak menentu menghantam dada Sonia. Sebenarnya Dimas sedikit tercengang dengan bibir Sonia yang pecah dan meninggalkan bekas, juga beberapa baretan di wajahnya.
"Sonia, akhirnya kamu...!" girang Dimas melangkah maju hendak memeluknya. Tapi Ryan segera menghentikannya, "eh...eh...eh...kamu mau apa?" hadangnya.
Mata Dimas kini terpartri ke wajah Ryan yang sudah berdiri di depan Sonia, "itu bukan urusanmu, minggir!" sahutnya. Ryan menyunggingkan senyum kecut, Â