Mohon tunggu...
Wisnu  AJ
Wisnu AJ Mohon Tunggu... Wiraswasta - Hidup tak selamanya berjalan mulus,tapi ada kalanya penuh dengan krikil keliril tajam

Hidup Tidak Selamanya Seperti Air Dalam Bejana, Tenang Tidak Bergelombang, Tapi Ada kalanya Hidup seperti Air dilautan, yang penuh dengan riak dan gelombang.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

[TMN 100 H] Senandung Cinta dari Selat Melaka "80"

2 Juni 2016   15:26 Diperbarui: 2 Juni 2016   15:31 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

            “ Tapi kok ada mobil didepan rumah?”, Tanya Salmi

            “ Mungkin mobil bang Azis?”. Jawab Sasa.  Kedunyapun memberanikan diri untuk mendatangi laki laki yang duduk diteras rumah mereka itu. Azis begitu melihat kedua adiknya ini langsung berdiri dan memeluk mereka.

            “ Sal mana ibu?”, Tanya Azis. Tidak ada jawaban dari kedunya. Salmi dan Sasa malah menumpahkan tangisnya dipelukan abangnya ini. Detak hati Azis seperti member isyarat yang tidak enak.

            “ Kenapa kalian menangis, aku menanya ibu, kemana ibu?”. Tanya Azis lagi dia mengelus elus kepala kedua gadis kecil itu.

            “ Ibu sudah lama meninggal bang?”. Azis terdiam, ia tidak mampu berkata kata. Matanya mulai meneteskan bulir bulir air bagaikan salju. Salmi melepaskan pelukannya dari Azis dia membukakan pintu buat abangnya ini.

             Azis melangkah memasuki rumah, dilihatnya kamar yang biasa ditempati oleh ibunya, kini telah kosong, yang ada hanya dipan yang beralaskan tikar pandan, dilihatnya kamar yang biasa ditempatinya, yang kini telah digantikan oleh kedua adiknya.

            Dimasukinya ruangan dapur, dilihatnya meja makan yang telah usang dimana dia dan ibunya sering duduk jika sedang bercerita, kini telah dihinggapi oleh debu. Kenangan kenangan indah bersama ibu dan adik adiknya kembali terlintas dimatanya. Air matanya terus menetes membasahi wajahnya, kedua adiknya hanya diam memperhatikan abangnya ini.

            “ Sewaktu ibu meninggal tidak seorangpun keluarga kita yang datang, abang dan kakak juga tidak bisa dihubungi, karena kami tidak tahu dimana mereka. Bang Azispun tidak bisa kami hubungi, karena kami tidak tahu dimana abang berada “. Kata Salmi menceritakan semuannya kepada Azis.

            “ Lalu siapa yang mengurus mayat ibu?”. Tanya Azis  kepada kedu adiknya ini.

            “ Para tetanggalah yang mengurusnya, merekalah yang melaksanakan pemakaman ibu?”. Jawab Salmi dengan linangan air mata.

            “ Biaya pemakaman ibu siapa yang menanggulanginya?, apakah kalian dan ibu berhutang dengan tetangga? Kalau kalian berhutang dengan tetangga biar kita selesaikan?”. Kata Azis bertanya, karena sudah merupakan kewajibannya untuk menyelesaikan semua hutang hutang itu, agar arwah ibunya tenang ditempatnya yang baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun