2) Pakai kendaraan sesuai kapasitasÂ
Pak TM adalah seorang dosen menjelang pensiun tinggal di Salatiga. Dia punya beberapa mobil angkot dan mobil pribadi. Meski begitu tiap mengunjungi anaknya di Solo dia naik bus, tidak memakai mobil. "Lebih mahal besinnya, kan yang pergi cuma satu orang." Cerdas.
Mobilnya malah dipercayakan pada rental, dia dapat pemasukan tetap. Ini juga salah satu kiat menghemat energi. Pakai kendaraan sesuai kapasitas penumpang.
3) Bekerja lebih keras, belanja lebih hemat
Kebanyakan kita, masyarakat menengah ke bawah sudah biasa berhadapan dengan kenaikan barang kebutuhan. Minyak goreng kapan lalu misalnya. Meski mahal, tetap harus dibeli karena perlu. Belinya tidak sering, sesuai kebutuhan. Kurangi makanan jenis gorengan. Tidak akan mati jika tidak makan gorengan tiap hari, khan?
Beda lagi dengan BBM. Jika tidak mengisi BBM, mobilitasnya bagaimana? Jadi, mau tidak mau ya harus dibeli. Strateginya yakni bekerja lebih keras, belanja lebih hemat.
Anda bisa mengambil pekerjaan sampingan jika memungkinkan, atau berjualan barang tertentu. Lumayan untuk "menambal" belanga. Aku misalnya, perlu memberi les tambahan pada beberapa murid. Risikonya fisik lebih capek.
Anda masih bisa jajan es kopi, rajin survei promo di Gofood dan belanja pakaian baru tapi mengeluh BBM naik? Bertobatlah, kurangi jajan! Mulai prioritaskan dana untuk kebutuhan primer-sekunder, salah satunya mengisi BBM. Syukur bisa menabung. Aku membawa bekal dari rumah setiap hari agar tidak jajan. Lebih hemat.
Selamat mencoba tips di atas. Jika sudah praktik dan hidup anda masih susah juga, artinya gaji anda kecil---seperti saya, hihi. Eits, jangan naik darah ya!--KRAISWANÂ
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H