Mohon tunggu...
Wahyudi Nugroho
Wahyudi Nugroho Mohon Tunggu... Freelancer - Mantan MC Jawa. Cita-cita ingin jadi penulis

Saya suka menulis, dengarkan gending Jawa, sambil ngopi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Keris Brongot Setan Kober

28 September 2024   15:05 Diperbarui: 28 September 2024   16:01 77
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Esoknya, di sore hari, seluruh punggawa Kerajaan Pajang berkumpul di ruang paseban. Semua heran, hari itu bukan waktunya di selenggarakan penghadapan yang telah rutin dilakukan selama ini. Tentu ada peristiwa penting yang tak dapat ditunda.

Ki Gede Pemanahan, Ki Gede Penjawi, Danang Sutawijaya, Pangeran Benawa, Tumenggung Prabadaru dan Senopati Untara, serta priyagung -priyagung Pajang lainnya nampak hadir di paseban itu. Belum lagi mereka lama duduk, beberapa prajurit nampak menyeret dua orang dan mengikatnya di tiang ruang paseban.

Sebentar kemudian Baginda Sultan Hadiwijaya keluar dari istananya, berjalan menuju ruang paseban dan duduk di singgasana.

"Hari ini bukan hari penghadapan. Namun kalian aku minta datang ke paseban. Semalam aku/ kedatangan dua tamu, entah dari mana asalnya aku belum tahu. Mereka menerobos atap bilik tidurku, setelah membikin para penjaga tidur semua. Adakah di antara kalian tahu dua orang tamuku ini." Kata Baginda.

"Mohon ampun Baginda. Ditilik dari pakaian dan ikat pinggangnya, mereka seperti anggota prajurit Soreng, pasukan khusus dari Jipang abdi Kanjeng Adipati Arya Penangsang." Kata Ki Gede Pemanahan.

Semua punggawa ramai menghiyakan kata Panglima perang kerajaan Pajang itu. Sultan kemudian mengangkat tangannya, agar para punggawa berhenti bersuara. Beliaupun lantas menoleh ke arah dua orang pesakitan yang terikat di tiang.

"Benarkah kalian anggota prajurit Soreng ?" Tanya Baginda.

Dua orang itu diam saja. Tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Tumenggung Prabadaru tiba-tiba marah dan membentak dua orang yang dicurigai dari Jipang.

"Jawab pertanyaan Sultan !!! Kenapa kalian diam saja !! Tulikah kalian !!!" Kata Tumenggung itu sambil berdiri. Melupakan adat tata krama di paseban saat menghadap raja.

"Prabadaru duduklah !! Tak perlu kau tumpahkan amarahmu kepada mereka. Keduanya hanyalah utusan. Mereka datang bukan atas kehendak sendiri. Terbukti di tangannya tergenggam keris keramat Brongot Setan Kober." Kata Sultan.

Prabadaru cepat-cepat duduk dan memohon maaf sambil menyembah beberapa kali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun