"Mengapa?"
"Jika masih lama, paling tidak saya ada teman untuk mengobrol sementara waktu, sebelum anda bertemu seseorang. Kenalkan, saya Aksan," Tangannya diulurkan kepadaku. Aku menolak secara halus jabatan tangannya sambil mengatakan maaf.
"O iya, saya lupa. Covid ya?"
Aku mengangguk dan menyebutkan nama.Â
"Covid memang merubah segalanya. Tatanan yang ada menjadi porak poranda. Bukan itu saja, covid memaksaku tinggal di sini. Seperti anda, bukan? Kapan masuk?"
"Empat hari lalu. Kemarin saya masih berbaring. Saya baru tahu kalau di sini ada taman yang indah." jawabku. "Lalu, kapan anda masuk?" tanyaku.Â
"Sama seperti anda, empat hari lalu."
Kemudian hening. Ia memandang arah ke depan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku membiarkannya. Aku sendiri sedang mengobrol dengan Maya sahabatku lewat WA. Ia yang selalu mendukungku, memberikan semangat agar cepat sembuh. Tiap jam bertanya bagaimana keadaanku.Â
Berada di tempat ini memang terasa menyiksa, tetapi aku berusaha menikmatinya. Jika tak begini, mana bisa membiarkan diri sendiri untuk beristirahat? Salahku juga, mengapa terlalu sibuk. Memforsir diri untuk kepentingan orang lain tanpa memperdulikan kesehatan sendiri.Â
Aku menghela nafas. Di kejauhan tampak kembang sepatu yang nyaris mekar, bagai menatapku tajam. Berkelopak putih terang dan berputik kuning. Ada beberapa tangkai calon bunga yang masih kuncup di sampingnya.Â
Ingatanku menyeruak pada Seno. Ia dulu pernah memberikan bibit kembang sepatu dan kutanam dengan sepenuh hati. Hingga bunga itu menjadi pohon yang kuat dan tegar. Sepertiku, yang memaksa diri agar tegar.