“Iya. Ini hasil USGnya.” Dokter muda itu menunjukkan hasil USG sambil tersenyum hangat dan ramah.
“Bayi anda akan lahir bulan depan.” Karnadi benar-benar terlonjak karena gembira. Dia menyalami sang dokter dengan erat, menciumi tangannya, seakan dia adalah dewa penyelamat.
Alat canggih bernama USG tersebut sangat berkesan di hati Karnadi. Sekarang, tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Dia akan segera menjadi seorang ayah. Ayah yang baik, akan selalu memanjakan dan bermain bersama anak tercintanya. Beda dengan sang isteri, dia bertambah takut dan khawatir, dikerenakan tahun-tahun sebelumnya kehamilannya tidak pernah berhasil. Resah dan gelisah menemani harinya, tidak bisa tidur nyenyak, hingga sang isteri jatuh sakit.
Karnadi menemani sang isteri. Resah melihat kondisi sang isteri.
“Aku takut, Bang.” Sang isteri mulai menangis.
Karnadi menenangkannya. Berusaha menghibur, lebih baik tidak punya anak dari pada kehilangan sang Isteri. Hal itulah yang terlintas di benak Karnadi melihat Nur ketakutan. Karnadi menemani sepanjang hari. Dan kemudian jatuh tertidur di samping sang isteri.
***
Karnadi melihat asap mengepul di depannya. Ada sosok di dalam asap. Karnadi mengernyitkan dahi, melihat lebih teliti. Menelisik, menerka sosok di balik asap tersebut. Seseorang yang pernah ditemuinya. Karnadi tersentak, setelah menyadari malam telah begitu larut dan suasana ini begitu di kenalnya: malam Jum’at kliwon. Dan sosok hitam itu merupakan dukun yang pernah ditemuinya. Karnadi tiba-tiba tidak bisa bergerak dalam diamnya. Tubuhnya terkunci, karnadi tidak bisa berbicara sepatah katapun. Dia ingin berteriak menyadari tubuhnya kram. Karnadi sangat heran. Yang lebih mengejutkan lagi, dukun itu menghampiri sang isteri dan menguap-usap perut istrinya yang buncit. Karnadi ingin mencegahnya. Tapi dia benar-benar lumpuh total.
Sosok itu menyeringai pada Karnadi, wajahnya buram. Menyeramkan. Sangat berbeda ketika Karnadi menemuinya dulu bersama sang isteri. Karnadi tidak bisa menahan teriakannya lagi, ketika sang Dukun memasukkan tangannya pada perut isterinya. Darah tercecer di mana-mana. Karnadi tetap berteriak sekuat tenaga, tanpa memperdulikan para tetangga yang mulai berdatangan. Karnadi melihat bayinya dibawa sang Dukun sambil mengatakan:
“Diam kau! Ternyata kau percaya pada selainku.”
Karnadi melolong seperti serigala, memenuhi seluruh desa. Teriakannnya menakutkan masyarakat desa. Orang-orang berbondong-bondong melihat Karnadi yang ternyata masih ada dalam kamarnya. Isteri Karnadi mencoba menenangkan. Mengambilkannya air minum.