Sampan kecil hanya memuat tiga orang sekali jalan. Sampan hanya terbuat dari modifikasi drum plastik yang dibelah. Saat digunakan sangat tidak stabil dan goyang-goyang saat didayung. Live jacket kami pakai dan pasang dengan kuat, sebagai pengaman.
Sampai di daratan kami sudah disambut oleh warga local di Pulau Pejantan. Ternyata pulau kecil terpencil ini juga ada penghuninya.
Menurut Pak Mansyur, Ketua RT Pulau Pejantan, setempat warganya ada sebanyak 40 jiwa. Namun keberadaannya mereka minim dengan fasilitas. Satu sekolah dasar saja kondisinya sangat memprihatinkan. Guru yang mengajar juga hanya satu orang dan itupun belum tentu setiap bulan datang.
Kami ajak anak-anak bermain bersama, ngobrol dan bercanda ria dengan kepolosan mereka.
Mereka adalah anak-anak masa depan bangsa yang saat ini jauh dari sentuhan hingar binger pembangunan di luar sana. Namun mereka tetap ceria dengan cita-cita mereka yang sederhana, menjadi nelayan.
Di dampingi oleh Lebo, pemuda lokal berbadan tegap nan santun, kami pun memulai penjelajahan pulau yang dianggap misterius ini.
Pengamatan vegetasi di berapa daerah di pulau tersebut menunjukkan masih ditumbuhi dengan pohon-pohon besar dari Suku Dipterocarpaceae. Daerah pantai ada yang berpasir ada pula yang berupa tebing karang dan sedikit ditumbuhi jenis mangrove.
Beberapa satwa dujumpai seperti biawak, berbagai jenis burung, tupai tiga warna dan jejak kaki monyet ekor panjang di daerah pasir pantai.