(tangan waktu itu) " selalu terulur, panjang dan menakutkan"/ "tanpa berkata suatu apa"//.Â
Bait dua, "terlalu jauh kau sudah terbawa"/" sudah terlanjur terlantar"//.
Bait tiga, "memutar jarum-jarum jam tua"/, "tanpa menoleh walau kauseru"//.
Bait empat,
(Tangan Waktu itu) " selalu terulur ia lewat jendela"/( "tambah tak tahu"/tiba tiba) "memegang leher bajumu"//.
Lalu kenapa penulis memilih kata kata di atas? setidaknya, sang penyair sendiri meyakini bahwa puisi memang betul betul berpengaruh dari kata kata yang dipilih. Maka tentulah kata kata khusus di atas sangat mewakili makna yang dimaksud Eyang Sapardi.
Bila kita telisik dari latar belakang Eyang Sapardi dan membandingkan dengan beberapa puisi lainnya, akan tampak bahwa pergumulannya sangat intens pada alam, pohon, batu, hujan, tanah, sikap eksistensial, kehidupan, kematian, pengharapan dan cinta.
Setidaknya berdasarkan  pendekatan struktur puisi dan latar penyair, kita mulai dapat menghayati bahwa  sejatinya puisi Tangan Waktu, bertemakan kesedihan, takut dan hampa dan (yang sering Eyang ingatkan) diiringi sikap aktif dengan kesadaran dan kesigapan.Â
Interpretasi dan penutup.
Disini karakter puisinya adalah impresionisme, bahwa sang Eyang menunjukkan kesannya tentang (rahasia) "Tangan Waktu" yang begitu siap dan tak bergeming serta mengintai kita saat kerja ataupun mimpi (tidur/lalai).
 Lewat puisi ini Eyang mengajak si engkau untuk menghayati hal yang sama seperti yang ia rasakan. Sebab Tangan Waktu itu tak akan "meminta izin" kepadamu bila ia ingin menarik "leher bajumu". Demikian juga, bila si engkau ingin kembali ke balik waktu, niscaya itu takkan pernah ia lakukan demi memutar "jarum-jarum tua".