Logikanya begini : Bahwa hanya untuk dibayar pelaku itu mau mengorbankan masyarakatnya, generasinya bahkan anak-anaknya untuk berlaku tidak sopan dalam menjalani hidupnya.
Kesimpulannya, prilaku orang itu yang disebut viral dengan cara-cara instan terutama negatif telah mengolok-ngolok adab sosial dan kesatunan sosial yang hanya dapat dihukum oleh masyarakat itu sendiri.
Dengan apa? Ya hanya dengan membiarkan kontennya, jangan pernah menontonnya, tentu karena kebanyakan orang kepo (mau tahu berlebihan).
Maka apapun yang tumbuh dalam masyarakat dengan perkembangan teknology terkini adalah dari representatif cara pikir masyarakatnya sendiri. Kalau masyarakatnya negatif thinking maka yang banyak muncul justru konten negatif yang akhirnya menjadi kecenderungan prilaku masyarakat secara umumnya.
Atas dasar kajian diatas maka masyarakat bodoh akan semakin berkembang karena banyak tokoh masyarakatnya justru sebagai pembuat konten negatif yang berkembang pesat dimasyarakat dan mereka menjadi selegram karena mendapat bayaran yang tinggi sebagai dampak view tersebut.
Karena semakin tumbuh dan berkembang masyarakat yang kontra dengan kesantunan terhadap budaya hidup masyarakat, maka mereka akhirnya menjadi masyarakat yang berkecenderungan merusak budaya, peradaban dan kesantunan sosial (antagonis).
Nah, mereka yang berprilaku seperti ini tergolong warga masyarakat transaksional tidak berbeda dengan antene terbatas dengan menafikan nilai-nilai penting lainnya dalam berbagai sisi hidup.
Nah, ini tidak berbeda atau sama dengan pelaku politik transaksional yang anda anggap lumrah selama ini.
Salam
Â