Di sisi lain, penanggulangan edukasi budaya sadar bencana alam secara konvensional di Indonesia cenderung terfokus pada instruksi; bukan pembentukan imaji postif pada gempa. Edukasi yang bersifat monolitik atau terbatas pada instruksi; tidak akan efektif dalam membentuk kesadaran sadar bencana.
Hal ini disebabkan instruksi tidak memberi stimulus emosional dan psikologis. Dalam sistem saraf dan kinerja otak manusia akan bekerja lebih aktif bila diberikan informasi yang membukakan imaji positif. Â Â
Salah satu pembentuk imaji positif terhadap bencana adalah literasi yang bersumber dari kearifan lokal. Di Indonesia, banyak tersebar literasi lokal warisan para leluhur yang potensial untuk dijadikan sebagai pembetukan imaji positif terhadap bencana alam. Misalnya, daerah Simeulue yang paling dekat dengan pusat bencana alam gempa bumi di Aceh pada tahun 2004. Tetapi, justru di kawasan inilah korban jiwa yang paling sedikit, yaitu hanya tujuh orang.
Evakuasi mandiri yang dilakukan masyarakat Simeulue merupakan kesadaran kolektif yang dibentuk literasi lokal yang lazim disebut 'cerita rakyat'. Dalam cerita rakyat Simeulue terdapat legenda tsunami yang terjadi sekitar seratus tahun yang lalu.
Legenda ini menjadi cerita turun-temurun. Dalam satu fragmen penting cerita ini, terdapat pesan penting bahwa bila melihat air laut surut, maka kita harus lari ke gunung. Tidak mengherankan, korban jiwa di kawasan terdekat titik pusat pusat bencana alam tersebut, hanya segelintir.
Di sisi lain, sandiwara radio Asmara dalam Bencana menggunakan bahasa Indonesia yang cenderung tidak efektif bila digunakan sebagai medium komunikasi dengan masyarakat daerah luar Pulau Jawa. Tradisi dan budaya yang diangkat dalam Asmara dalam Bencana pun cenderung hanya fokus pada Jawa.
Dengan demikian, masyarakat luar Pulau Jawa dan tidak menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi kolektif, tetap akan sulit menerima pesan budaya sadar bencana dalam sandiwara radio ini. Tidak mengherankan, sandiwara radio tersebut tidak jauh berbeda dengan sandiwara radio lainnya yang sekadar alternatif hiburan dan tidak disambut secara antusias oleh seluruh masyarakat Indonesia; sehingga belum bisa melampaui popularitas siaran sepak bola.
Pengabaian literasi lokal tersebut mengakibatkan imaji yang membentuk reaksi budaya sadar bencana lebih mengarah pada paradigma industri. Dalam perspektif industri, bencana identik dengan kondisi yang mengakibatkan proses produksi menghasilkan 'kerugian'. Tidak mengherankan, informasi mengenai peristiwa-peristiwa bencana alam sangat mengeksploitasi istilah 'kerugian', sehingga menimbulkan ketakutan. Â Â Â Â
 Komunikasi Homophily dalam Budaya Sadar Bencana
Dalam peristiwa The Miracle of Kamakashi terdapat pelajaran penting bahwa imaji positif berupa 'penghormatan terhadap alam' melahirkan 'sikap yang benar'. Keberhasilan evakuasi di Simeulue terdapat pelajaran berharga bahwa cerita rakyat yang diwarisakan secara turun-temurun membangkitkan 'sikap yang benar' mampu membangkitkan imaji positif. Â Â Â Â