Sisa waktu masih cukup panjang bagi Wasi. Tetapi selalu saja waktu perjalanan sang berjalan terasa sangat cepat. Karena pekerjaan dan tindakan apapun harus dilakukan dengan tergesa, seperti tidak ada kesempatan untuk berpikir dua kali.
Wasi punya bisnis sendiri di bidang periklanan luar ruang. Punya kantor sendiri di kawasan strategis serta beberapa orang staf yang sudah mampu bekerja sendiri. Ia tinggal mengarahkan hal-hal penting. Mengeksekusi keputusan strategis yang tidak mungkin diwakilkan.
Di kantor ia biasanya berganti pakaian dengan jenis yang lebih longgar dan nyaman dikenakan. Tidak memaksakan diri untuk mengejar standar penampilan seorang selebritis. Di situ ia juga melakukan sholat, dan mengenakan kerudung meski tidak menutup keseluruhan rambutnya yang hitam sebahu itu. Dengan penampilan demikian ia berubah sama sekali dari sosok glamour seorang presenter televisi menjadi eksekutif muda yang enerjik penuh warna.
Hari itu ia terpaksa meninggalkan jadwal kuliah magister yang hampir rampung teorinya, ia sudah mulai mencari-cari judul untuk menulis tesis. Ia sempat mengisi daftar hadir perkuliahan namun kemudian menghilang karena perut dirasa sangat lapar. Kesibukan seolah terus memburunya. Dan itu memang gaya hidup yang tengah direngkuhnya setelah ia terhempas dari kegagalan rumah-tangga yang menyakitkan.
***
Maghrib sudah lewat, dan malam merambat cepat. Wasi memilih rumah makan padang supaya hidangan tersaji cepat dan tentu saja lebih hemat. Selesai makan ada panggilan pada salah satu telepon genggamnya.
“Hallo, Wasi. Jon Bongsor sudah di tanganku.. . . .!” suara Papinya nerocos kencang dari seberang.
“Siapa itu Jon Bongsor?”
“Siapa? Ya, orang yang kamu rekomendasikan itu? Siapa namanya, Papi juga nggak ingat, tapi kami sepakat ia kupanggil Jon Bongsor. Sedang ia memanggilku Bro Haji. . . . .!”
“Arjo Kemplu? Itu namanya!”
“Ya ya... Arjo Kemplu! Kukira orangnya betul kocak dan banyak akal. Karena cara mendapatinya yang cukup unik, sepanjang pertemuan ia kelihatan sangat hati-hati dan was-was. Mungkin ia punya pengalaman buruk pernah tersandera, diculik, atau peristiwa semacam itu. . .. . .!”