Dalam hal seperti ini biasanya memang keluarga kami yang dekat dengan tetangga dan kebetulan orang tuaku luar biasa dermawan kalau untuk kerukunan tetangga.Â
Salut banget sama ajaran orang tuaku. Sejak orang tuaku dihadiahi mobil oleh adik bungsuku, sejak itu pula mobil yang dirumah seperti mobil social yang bisa dipakai warga. Dan inilah kebahagiaan orang tuaku. Banyak tetangga yang mempunyai mobil tapi mereka enggan untuk meminjamkan atau dipinjami, tapi orang tuaku beda.Â
Almarhum ayahku selalu berpesan agar berbuat ttttttsesuatu untuk orang lain, beliau ingat betul dan masih sangat merasakan pada saat anak-anaknya masih kecil dan hidup serba kekurangan, jadi pada saat anak-anaknya sudah mandiri dan cukup, maka saatnya orang tuaku membalas kebaikan yang dulu pernah diterima dari orang-orang baik apapun bentuknya.
"Bu sopir, gimana ini? Sanggup nggak pergi lagi" senyum ibukku mengembang sambil melihat ke wajahku. Ibukku takut aku kecapakan abis perjalanan jauh jadi minta pertimbanganku untuk mengantarkan emak-emak ini ke Semarang
"Saya mah siyap wae lah" jawabku
"Bentar dulu ya aku belum sholat tadi. Aku tinggal sholat bentaran ya" kata ibukku meninggalkan kami masih berdua dengan mbak Yati.
Selang beberapa waktu sekira ibuk sudah selesai sholat, aku ngelongok ke kamar beliau. Rupanya beliau sedang membuka dompet dan menghitung kira-kira ongkos buat pergi besok cukup nggak.Â
Aku cuma tersenyum. Sekarang ini ibuk lebih banyak disupport materi dari aduk bungsuku. Duapuluh lima tahun yang lalu akulah yang paling besar mensupport keluarga terutama dalam hal pendidikan, kini semua berbabanding terbalik. Adik-adik yang aku sekolahkan sudah mapan dan bis membahagiakan orang tuaku.
"Eh kamu. Mbak Yati masih di luar"
"Masih bu, kan emang nungguin ibuk sholat katanya. Aslinya sih nunggu jawaban bu" jawabku nyengir
Aku nyelomg duluan ke ruang tamu meneruskan ngeru,pi sama mbak Yati. Hal yang jarang aku lakukan di rumahku.