2 dari 7 puisi Seruni Unie yang tampil di Media indonesia, 04/02/2018
APHOLOGI Â II
             Â
Kelak kau paham, akulah perempuan sudra yang rajin merawat kegilaan
Sejak waktu tersungkur mengajari syukur, segala malam adalah wahyu
Untuk sekedar mengintip doamu dari kepungan jarak sendu
Sebab selalu kuingin berkhalwat, setiap adzan lewat
Menikmati pelukan khidmat
Sekalipun dalam hayal sesaat
Kau pasti tahu, langkahku terlanjur majnun
Membiarkan mimpi tumbuh anggun pada rendah hatimu
Menciumi lebat zikir, tanpa pernah merasa pandir
Begitulah, garis tanganku hari ini
Menggantung doa pada brahmana
Dikejauhan manah
Meski mungkin tak merekah Â
Mungkin kau tak berkenan
Tapi sebagai hamba, aku hanya mampu bertaat
Mengikuti alur kodrat, mengikblati sunyi syahwat
Dipinggiran waktu
: hingga maut dan usia bercumbu
   Solo, 2017
NYANYIAN ABDI
1.
Mukjizat macam apa yang diamdiam kau punyai, tuan muda ?
Sebab setelah percakapan itu pecah, seketika malamku bermasalah
menjadi kecentilan, menjadi lebih bugar. Lalu diantara subuh, segala indraku luluh. Bertakzim di paragrafmu, memilin doa gaduh
di luar ekspetasi
Maka maaf, andai suatu petang puisi mengajakmu berbincang
abaikan! karena jauh-jauh hari, aku telah membunuh sunyi. dari jeratan rasa sinting paling bengal. Dari permainan waktu tak waras
sejak menemuimu ...
2.
Bagaimana harus kujelaskan ?, bila bulan yang kuimani mirip sendawa sepenggal. Atas ketololan diri, membiarkan batin bertengkar. Menghardikmu dengan bening kata, memujamu dalam cuka
hanya karena perjumpaan lalu semisal malakama
menusuk dhuha, menimang kegilaan raga
bagaimana harus kujelaskan ?
bila kali ini, ada hati terkapar di telapak kaki
       Solo, 2017
:
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI