“Bukankah itu membahayakan Rama sendiri?”
Eyang Kakung menghisap lintingan tembakau. Sedikit terbatuk hal yang biasa. Tanda sudah usia lanjut.
“Setelah kejadian, Rama menyadari… itu membahayakan!” Ia mendadak bersin keras, kemudian melanjutkan.“Tapi waktu kejadian, ndak kepikiran sama sekali. Yang penting melawan!"
"Laki-laki masak diam saja!”
“Apa yang Rama pikirkan setelah kejadian ini,” Ibu saya melanjutkan tanyanya.
Eyang Kakung tidak memberikan jawaban sama sekali. Ibu saya pun tidak menunggu jawaban seketika itu juga. Dibiarkanlah itu berlalu, biarlah orang tua itu yang memutuskan.
Peristiwa itu telah mengundang banyak orang tua datang ke rumah. Dari sesama pensiunan maupun bukan.
Sampai akhirnya Eyang mengatakan di hadapan Eyang Putri dan anak-anaknya,”Ya, sudah. Mulai bulan depan Ning yang ambil pensiunannya.” Ning adalah anak bungsu Eyang Kakung.
Bagi Eyang Kakung, kejadian itu sebuah teguran. Gusti Allah punya cara sendiri untuk mengingatkannya, setelah membandel jika diingatkan, akunya.
“Rama sudah ndak pantes pergi jauh sendirian. Sudah harus tahu diri. Kalau mengejar keinginan, rasanya pergi ramai-ramai bareng orang pensiunan itu menyenangkan."
"Tapi, Rama lupa, awake wis loyo.” Tubuhnya sudah loyo.