"Maaa! Mamaaa!" teriakan Nona tak surut sebelum ada jawaban dari Mama.
Bungsu keluarga Bangunjiwo ini memang sangat manja. Rambut sepundaknya diacak-acak saat sang mama tak kunjung datang.
"Brisik! Ngapain teriak-teriak? Masih pagi," bentakan Varo berhasil menghentikan teriakan Nona.
"Biarin! Habis Mama lama banget."
"Mama lagi tadarus. Nanti kan bisa. Kamu juga, bukannya Tahajud dulu malah teriak-teriak."
"Udah, Kakakku. Udh dari tadi selesai Tahajud. Sekarang aku mau buat susu kurma. Paham?"
"Ya tinggal buat, ngapain manggil-manggil Mama? Udah gede bukannya mandiri ngerepotin Mama terus! Dasar manja!"
"Apa, sih, Kak? Kenapa jadi Kakak yang sewot?"
Varo membalikkan badan dan kembai ke kamarnya di Lantai 2. Pria itu memilih tidak melayani gerutuan adik bungsunya itu. Dia membiarkan gadis manja itu terus-menerus memanggil Mama.
Tak juga mendapat sahutan, Nona meracau. Dia berjalan tanpa melihat sekeliling. Dari arah dapur, Bi Saimah sedang memegang mangkuk berisi sup jamur yang baru saja masak. Asapnya saja masih mengepul.
Tak ayal lagi, punggung Noni tersiram mangkuk sup ketika kakinya mundur beberapa langkah tanpa melihat Bibi Saimah sedang berjalan.
"Aww! Panas!"
"Non, maaf. Aduh. Maaf, Non. Bibi nggak lihat." Wanita paruh baya itu kebingungan setelah meletakkan mangkuk sup yang tak lagi penuh.
Sebuah lap ditempelkan ke punggung Nona yang masih meringis sambil ngomel tak sudah-sudah. Mama, Papa, dan Varo buru-buru turun untuk melihat keributan yang terjadi di pagi waktu sahur.
"Nonaa, ada apa, sih?"
"Bibi, Ma! Jalan gak pakai mata!"
"Heh! Mulut dijaga!" Vero mulai angkat bicara melihat adik perempuannya bicara kasar pada orang yang lebih tua. Terlebih orang itu sudah sangat berjasa di keluarganya. "Minta maaf!"
Raut muka Nona tertunduk lesu. Bibirnya manyun. Sepertinya gadis itu tidak rela jika dipaksa meminta maaf.
"Nona!"
"Ver ...," potong Papa, "bukan gitu caranya ngasih tahu. Adik kamu nggak bisa dipaksa."
"Tapi, Pah--"
"Setop."
Mama mendekati Nona dan menanyakan tingkahnya yang meresahkan sejak dini hari. Dengan nada kesal, putri bungsu keluarga terpandang ini menanyakan kurma.
Tanpa menghiraukan tatapan mata Varo, Nona kembali ke dapur untuk membuat minuman bekalnya sahur.
"Ada apa dengan Nona, Mah. Heboh banget."
"Sudahlah biarkan saja. Dia lagi rajin konsumsi kurma. Katanya bisa bikin cantik."
"Paling-paling latah. Cuma ikut-ikutan. Seminggu juga lupa."
Mama melirik tajam abang Nona ini. Sedari dulu Varo dan Nona tidak pernah akur. Vero terlalu keras menerapkan disiplin untuk adiknya. Larangan dengan kata 'jangan' kerap menjadi awal pertengkaran mereka.
Tak sampai setengah jam, segelas susu kurma tersaji di meja. Nona meminumnya hingga tandas, lalu meninggalkan meja makan.
"Jadi udah, nggak makan nasi atau yang lainnya, Non?" tanya Mama.
"Nggak, Ma. Udah kenyang. Kebanyakan kalorinya kalau ditambah nasi."
"Yakin cukup? Gak kelaparan siang nanti?" goda Papa.
"Insyaallah enggak."
Sekejap saja gadis itu sudah sibuk dengan ponselnya. Namun, dia masih mendengar sindiran abangnya tentang dietnya kali ini.
"Paling juga buat Zidan."
"Terserah aku mau diet buat siapa. Yang jelas, aku mau kurus biar cantik. Emang Nilam, gendut!"
"Hei! Body shamming!"
"Biarin!" teriak Nona sambil berlari kembali ke kamarnya di lantai atas.
***
Mama sedang mengeluarkan semua belanjaan dari kantung. Ada dua kotak kurma super yang dibeli Mama untuk Nona. Kurma terbaik.
"Banyak belanja kurma, Bu?" Bibi bertanya setelah melihat kotak-kotak kurma berbagai jenis.
"Untuk Nona, dia lagi rajin diet."
"Tapi sudah tiga hari ini Non nggak buat minuman, Bu."
Kening Mama mengernyit. Ada apa? Sudah bosankah? Mama memandangi kotak kurma yang sudah telanjur dibelinya. Dia menggeleng.
***
"Non!"
"Heem ...."
"Buatin susu kurma, dong."
"Males!"
Varo melirik Nona yang masih terpaku pada ponselnya. Tumben Nona tidak seantusias biasanya dengan kurma. Mana kehebohannya pada kurma seperti hari-hari kemarin?
"Tumben males? Udah bosen terapi sama kurma? Atau hasilnya tak seperti yang diharapkan?"
Mata Nona tajam menimpali kalimat Varo barusan. Sepertinya 'perang' akan segera dimulai. Melihat reaksi adiknya seperti itu, Varo mempertajam ucapannya.
"Zidan kenapa? Tetap nggak respons perhatian kamu? Usahamu selama ini sia-sia, dong, ya?"
Mata yang tadi melotot tiba-tiba mengendur. Pandangannya dialihkan ke tempat lain.
"Lagian, Non, tidak semua cowok hanya suka keindahan fisik dari cewek. Bukan cuma kulit mulus yang dicari. Bukan. 'Cantik' itu luar dalam. Niatmu saja yang perlu diubah. Cantik itu karena Allah."
"Menurutmu Nilam cantik?" Akhirnya Nona bersuara.
"Cantik. Pacar Zidan menurutku juga cantik."
"Kamu tahu?" Kali ini Nona menoleh pada abang semata wayangnya. Ada gurat sedih terpancar di matanya.
"Nilam yang kasih tahu. Dania itu sepupunya."
Nona tertunduk lesu. Dia menyesal terlalu terobsesi pada pria yang jelas-jelas tidak tertarik padanya.
"Nggak ada salahnya perawatan dengan kurma dan rajin Tahajud. Itu usaha merayu Allah. Dapat pahala dapat cantik."
Nona menghela napasnya. Cantik karena Allah.(*)
Airmolek, 29 April 2021
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI