Mohon tunggu...
Rendy Artha Luvian
Rendy Artha Luvian Mohon Tunggu... Penulis - Staf Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, anggota FLP (Forum Lingkar Pena)

Menulis adalah membangun Peradaban

Selanjutnya

Tutup

Cerbung Pilihan

Catatan Abdi Dalem (Bagian 13, Nusa) - Singgah

25 Maret 2024   20:21 Diperbarui: 25 Maret 2024   20:23 212
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tangannya otomatis melambai ke atas, ke arah dua sekoci yang datang dari arah utara, yang lain segera mengikuti. Lambaian yang segera dibalas oleh sekoci tujuh dan delapan. Sementara itu seperti terjadi keributan di sekoci sembilan setelah mereka semua mengetahui bahwa seluruh sekoci yang mengarah ke Nusa selamat, dan bertambah ramai lagi ketika salah seorang penumpang menunjuk-nunjuk ke arah pelabuhan, tempat tujuh belas kapal perang Pinisi Mataram Parahiyangan sedang berlabuh.

            "Mereka akhirnya menyadari, Alhamdulillah," ujar seseorang dari sekoci delapan.

            "Seharusnya mereka bisa melihat lebih jelas daripada kita," ucap yang lain.

            "Alhamdulillah, semoga masih ada waktu untuk menyelamatkan Kapten Sudirman dan yang lain..."

            Meskipun terdengar sedikit ragu, kalimat terakhir membuat suasana hening di sekoci delapan, beberapa penumpang terlihat hanya menahan perasaan. Harapan masih ada di kala musibah menerpa.

            "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."

                                                                                    ~

            Wilayah Kerajaan Nusa terdiri dari beberapa pulau yang saling menyokong antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing pulau memiliki komoditas ekonomi andalan. Tidak mengherankan jika banyak Kerajaan di Nusantara menjalin kerjasama dengan Kerajaan Nusa, terutama mereka yang berdekatan. Sebagian besar kapal yang berlabuh adalah kapal dagang, yang paling rutin kemari yakni Kapal dagang dari Kerajaan Gowa. 

Ada kerjasama khusus yang terjalin antara dua kerajaan ini. Tidak seperti biasanya memang, terlihat tujuh belas kapal perang Mataram-Parahiyangan berlabuh. Biasanya, hanya kapal dagang mereka saja yang, jika memang sudah musimnya untuk bertukar komoditas, berlabuh di pelabuhan Bima.

            Satu grup kapal perang terdiri dari minimal tiga buah kapal, berarti paling tidak ada lima grup yang diterjunkan oleh Kerajaan Mataram - Parahiyangan kali ini, jumlah yang tidak sedikit. Selain kapal-kapal dagang dan perang, jumlah sampan juga ternyata cukup seimbang. 

Berlalu-lalang di sekitar pelabuhan, mereka datang dari pulau-pulau di sebelah barat dan timur. Membawa barang dagangan kebutuhan sehari-hari atau mengambil barang-barang dagangan dari luar Nusa di pulau utama. Ini adalah salah satu hal yang membuat kemunculan misterius tiga buah sekoci di utara pelabuhan menjadi agak terabaikan. Bentuknya yang kecil dan hampir sama dengan sampan, namun kalah panjang, menjadikannya tidak terlihat mencolok. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerbung Selengkapnya
Lihat Cerbung Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun