Saya bersama beberapa kolega pernah mempunyai mimpi untuk membangun sebuah startup yang menyediakan ekosistem terintegrasi meliputi marketplace penjualan produk-produk segar dari pasar tradisional secara business to business (B2B).
Ide sederhananya adalah mempertemukan penjual dan pembeli melalui sebuah platform digital. Mitra kami adalah para pedagang kecil di pasar tradisional. Sehingga pembeli tidak perlu repot datang ke pasar untuk membeli kebutuhan sembako, ayam potong, sayuran, dan sebagainya.
Berdasarkan pengalaman itulah, saya sangat memahami betapa sulitnya mengerjakan startup yang melibatkan kompleksitas transformasi teknologi di tengah rendahnya literasi mitra dan inkonsistensi pimpinan perusahaan.
Sementara, ekspektasi investor yang tinggi membawa sebuah persoalan tersendiri yang tidak kalah rumit dari sekadar membuka gerai-gerai baru di pasar-pasar tradisional yang menjadi target.
Meski saya bukan seorang CEO, terkait tahapan transformasi teknologi dan ragam model manajemen yang mengikutinya (seperti: Unfreeze-Change-Refreeze ala Lewin, 8-step model menurut Kotter, hingga technology acceptance model (TAM) milik Fred Davis) sudah cukup paham.
Ujung dari semuanya adalah Kepemimpinan. Saya ulangi...Kepemimpinan!
e-Fishery dan Transformasi Teknologi
Sejak medio 2010, perkembangan startup di Indonesia telah mencatatkan banyak prestasi yang signifikan, mencerminkan dinamika sektor teknologi yang terus berkembang di Asia Tenggara.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menjadi rumah bagi banyak perusahaan rintisan unicorn dan decacorn yang dikenal tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di dunia internasional.
Transformasi ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk digitalisasi, kemajuan infrastruktur teknologi, serta peningkatan daya beli konsumen.