Mohon tunggu...
Raditya Saputra
Raditya Saputra Mohon Tunggu... Masinis - Akuntan

Berdoa agar bisa take podcast sambil ketiduran

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Setelah Tuhan Menciptakan Pria

5 Agustus 2022   17:30 Diperbarui: 5 Agustus 2022   17:34 238
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Tuhan meninggalkan singgasananya sebentar. Berjalanlah Ia ke belakang istana-Nya yang megah bertaburkan emas dan permata menuju tempat paling sakral di seluruh surga. Langkah kakinya pelan namun mantap. 

Jika dia berjalan di tanah bumi, mungkin si kuat pohon beringin dan si tinggi hati pohon kelapa akan segara merunduk. Gunung-gunung nan jumawa akan kehilangan harga dirinya. Ombak-ombak yang makin cerewet ketika matahari mulai tenggelam pun pasti terdiam hening.

Para Serafim yang senantiasa berada di sisinya hanya bisa bertanya-tanya “ke mana Tuan kita ini melangkah?”. Serafim lainnya menggelengkan kepala karena tak tahu apa yang ada di belakang singgasana.

“Pernahkah kau melihat ada apa di belakang singgasana?” tanya seorang Serafim

“Entahlah, aku ingin memastikan” jawab yang Serafim ada di pojok kanan baris terdepan

“Yakin kah kau? Bagaimana kalau Dia nanti marah?” tanya Serafim yang pertama kali punya rasa kepo dari dalam dirinya.

“Tuan kita marah? Yang benar saja kamu. Hanya yang bodoh yang merasa Tuan kita ini pemarah”, jawab Serafim pojok lagi.

“Kau, malaikatku yang berani ingin mencari tahu apa yang ada di sini maka kemarilah”, suara Tuhan yang agung mengejutkan para Serafim dari belakang istana yang menunjukkan betapa besar kuasa-Nya..

Hanya dia yang berani bertanya yang akan mendapatkan jawaban Tuhan. Maka sang Serafim yang berani memastikan akan mendapat jawaban. Berjalanlah ia naik ke sebelah singgasana. 

Ia terus melangkah ke belakang istana dan mendapati sebuah ruang sakral nan agung di sana. Pintunya tinggi sekali berlambangkan 2 bentuk aneh yang sama sekali tidak bisa dia mengerti.

Di sisi kiri terlihat seperti sebuah kepala dengan badan nan kekar dengan pedang di tangannya. Di sisi kiri dia seperti melihat sebuah kasih yang tiada tara yang membawa lilin kecil. Ia semakin bingung dengan pintu ini. Ruang apa sebenarnya?

Dengan segala keingintahuannya maka dia membuka pintu besar ini dan didapatinya Tuhan sedang menggoreskan sebuah gambar dengan air yang suci.

“Tuan sedang apa?”, tanya Serafim itu

“Oh ini? Kau benar ingin tahu?”, jawab Tuhan

“Sungguh aku ingin tahu apa yang sedang kau lakukan”

“Baiklah. Coba perhatikan ruangan ini. Apa yang kau lihat anakku?”

“Aku melihat kau sedang menggoreskan gambar dengan sebuah air suci”

Tuhan membenarkan apa yang Serafim lihat. Tapi apakah si Serafim ini tahu dari mana air suci tersebut? Sudah pasti Serafim tak memahami apapun. Tuhan pun tak pernah bercerita. 

Tuhan hanya datang beberapa kali ke tempat ini. Tidak ada yang tahu apa yang Tuhan perbuat bahkan Michael sekalipun.

“Air suci ini tak lebih dari rintihan hatiku yang sedih”, kata Tuhan

“Aku menciptakan sebuah karya besarku bernama manusia. Aku menamai dia “Pria”. Dia yang akan menjadi karyaku yang pertama. Aku harap Dia bisa sempurna”

“Lalu kenapa akhirnya Tuan malah bersedih?”, tanya Serafim

“Aku terlalu percaya diri dengan karya pertamaku. Pria. Karya yang aku kira akan menjadi indah”

“Ada masalah apa?”

“Lihatlah ini”.

Tuhan membawa sebuah cetak biru dan segala bahan yang Ia gunakan untuk membuat “Pria”, karyanya yang pertama. Serafim yang beruntung itu segera melihat cetak biru yang Tuannya perlihatkan ke dia. 

Dia melihat sesuatu yang sama seperti di pintu depan yang luar biasa besar dan megah itu.

Serafim bertanya “Apakah ini yang berada di pintu depan, Tuan?”

“Iya, dia ada di sisi kiri”

“Jadi itu si Pria?”

“Tepat sekali”

Tuhan menjelaskan bagaimana dia menciptakan karya hatinya yang pertama ini. Dengan sedih dan gundah gulana Tuhan bercerita kepada hambanya yang setia.

“Dia aku racik dengan otak yang cukup besar. Dia akan membawa dunia ke sebuah kesempurnaan abadi. Para pria akan lebih sering menggunakan logikanya untuk menyelesaikan segala prahara”

“Lalu, Tuan, apa yang salah?”

“Hatinya terlalu kecil untuk berbelas kasihan”, cerita Tuhan dengan menempelkan tangannya ke dadanya yang hangat.

“Hatinya yang terlalu kecil ternyata membutakannya. Dia tak menjadi seorang yang memahami, lebih banyak ingin dimengerti. Dia justru menjadi karyaku yang egois nan jumawa. Kedewasaannya tak bisa kita ukur dengan satuan normal karena diriku melihat kedewasaannya terlalu kecil”

“Bagaimana dengan badannya yang kekar itu, Tuan? Bukannya mereka akan saling melindungi?”

Semakin sedihlah Tuhan mendengar pertanyaan si Serafim tukang ingin tahu ini. Tapi tetaplah, siapa yang bertanya kepada Tuhan dialah yang akan tahu sebuah kebenaran.

“Badannya tangguh memang. Dia bisa memikul gunung di bahunya dan menggenggam sebuah batu raksasa di tangannya. Namun racikanku salah. Badannya yang besar membuatnya merasa ingin terus berkuasa. 

Menunjukkan dirinya yang hebat dan kuat, padahal ini menunjukkan betapa lemahnya dia karena selalu ingin berseteru. Hanyalah yang kuat yang mencintai kedamaian” cerita Tuhan.

“Lalu apa yang ada di antara kedua kakinya?” tanya Serafim

“Oh itu penisnya. Tempat semua kebodohannya berasal”

Tuhan sadar bahwa jika Ia menjelaskan asal semua kebodohan pria ini maka akan membutuhkan waktu yang lama. Tuhan sedang lelah. Dia ingin sedikit meratapi kegagalannya dalam diam membunuh semua penyesalan yang menenggelamkannya selama ini. Hatinya berkecamuk.

“Bagaimanakah engkau bisa menciptakan monster seperti ini Tuan?”, tanya Serafim

“Pertanyaanmu lancang. Tapi tak apa. Aku melihat di masa depan akan ada satu dari kalian yang berkhianat. Dia Serafim yang kuat nan tangguh. Dia punya otak besar yang luar biasa cerdas. Kuciptakan para manusia bernama pria ini untuk mengganti ketangguhannya”, cerita Tuhan.

“Bolehkah saya tahu siapa yang kau maksud?”

“Nanti kau akan tahu sendiri.”

Lalu Tuhan menggulung cetak biru dari pria yang sudah ia buat. Dibukalah gulungan yang lain. Di situ tertulis “Perempuan”. Tulisan “perempuan” ini terukir dengan indah menjadi wakil dari sebuah keelokan. 

Serafim pun terkesima. Dilihatnya dengan kagum karya Tuhan yang ini.

“Perempuan?” tanya Serafim

“Tepat. Dialah ciptaanku yang sesungguhnya. Aku menggoreskannya dengan air dari hatiku yang sudah aku ceritakan tadi. Dia adalah respresentasi dari harapanku tentang dunia yang sesungguhnya”

“Maaf Tuan. Bisakah anda bercerita lebih lanjut?”

“Tentu saja”, kata Tuhan.

“Dialah terang dunia yang sesungguhnya. Dia halus hatinya. Dia dewasa dengan pandangan hidupnya. Ketika kau melihat pintu besar itu kau akan melihat pria dengan pedang sedangkan perempuan dengan nyala lilin yang menerangkan.”

Serafim menyimak baik segala ucapan Tuhan.

“Perempuan inilah yang benar akan membawa harapanku yang besar. Dia berkebalikan dengan para pria, dia pemaaf yang memiliki suara yang merdu. Nyanyian burung pun seakan tak ada harganya”

“Seindah itukah, Tuan?”

“Tentu saja. Jika aku menciptakan pria dengan kekhawatiran akan pemberontakan dan membuat karya pertamaku menjadi sosok nan keras aku akan mencipta perempuan dengan senyuman. Senyum dari hatiku akan menjadi senyum mereka kelak”

“Saya ingin melihat perempuan ini segera, Tuan”

“Kelak kau akan hadir di setiap perempuan dengan nyanyian merdu mereka dan hati mereka yang penuh kasih”

“Saya tak sabar”

“Maka bersabarlah, anakku. Perempuan ini sebentar lagi akan menjadi pengisi hari-hari malaikat dengan sukacita. Mari kita keluar”, ajak Tuhan

Kini Tuhan dan anaknya sudah berada di depan pintu nan besar ini. Mereka hendak keluar, kembali ke tempat di mana Tuhan bertakhta.

Saat Tuhan membuka pintu untuk dirinya dan anaknya terkejutlah Ia. Ramalan hatinya akan kekacauan surga kini sudah terjadi di depan mata. Salah satu Serafim memberontak. 

Serafim yang satu ini sangat kuat nan gagah perkasa. Otaknya lebih besar dari Serafim lainnya. Hatinya lebih kecil, sayangnya. Dia merasa sebagai yang terkuat dan tergagah. Dia merasa paling dewasa padahal tidak. Dia yang ingin memerintah surga sepenuhnya.

“Lucifer memberontak!”, teriak salah satu Serafim yang memberanikan diri untuk berteriak di hadapan Tuhan.

“Jadi ini maksud Anda, Tuan?”, kata Serafim yang sedari tadi bersama dengan sang Bapa Agung

Terlihat Tuhan menepuk dahinya dan berkata,

“Dasar Lucifer, bukan seharusnya aku memasukkan sifat pria ke dalam dirinya”.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun