Bang Manto mengiris sedikit permukaan telapak tangannya dengan wajah menahan perih. Darah merah segar mengucur ke dalam mangkok. Setelah itu dia mengedarkan pisau itu ke sampingnya, Curik yang mendapat kesempatan itu pertama kali agak segan.
“Ini mesti ya, Bang?” tanyanya takut-takut.
“Iya! Ini cara menyatakan sumpah setia dan persaudaraan pada paguyuban. Kalau pahlawan-pahlawan kita dulu rela mati untuk menyatakan cintanya pada negara, kita cukup rela meneteskan darah. Ini demi persaudaraan kita, Saudara-saudara! ”
Teman-teman yang lain saling berpandangan lagi. Mau tidak mau, Curik pun mengiris sedikit kulit telapak tangannya. Darah segar pun menitik ke dalam mangkok, bercampur dengan air dan darah Bang Manto yang lebih dulu masuk.
Yang lain mau terlihat mau komplain, tapi enggan karena pemimpin mereka terlihat begitu berapi-api.
Akhirnya setelah semua yang hadir melakukan aksi serupa dilanjutkan dengan membuat yel-yel paguyuban, mereka semua bubar jalan.
Di depan pintu pagar, Seno membuka tasnya untuk mengambil telepon cerdasnya yang sejak tadi tersimpan di sana. Saat itu Doni melintas buru-buru sehingga menyenggol tas Seno sampai terjatuh. Pandangan Doni, juga Asep yang saat itu melintas terpaku pada isi tas Seno. Mata keduanya melotot karena terkejut. Seno pun terlihat gugup, lalu buru-buru mendorong masuk jaket seragam ojek online yang menyembul dari dalam tas.
“Ma…, maaf, bang, sa… saya…,”
Ucapanya terpotong, karena Doni buru-buru menyeretnya keluar pagar lalu memojokkannya di balik dahan pohon manggis agar terlindung dari pandangan yang lain. Asep juga ikut serta.
“Gila kamu! Kamu daftar di Ngo-jek juga?” kecam Doni dengan suara tertahan.
Seno tertunduk takut.