BAB I
PENDAHULUAN
Di zaman yang serba modern ini, permasalahan mengenai ras masih menjadi timeless issue atau masalah yang tidak lengkang termakan waktu. Permasalahan-permasalahan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan ras sering terjadi pada masyarakat yang memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, prasangka buruk ini akan meningkatkan identitas diri dari seorang individu atau kelompok lalu terbentuklah identitas kelompok.Â
Adanya identitas kelompok ini akan membentuk suatu kekuatan dan juga prinsip. Ketika terjadi perbedaan dan gesekan prinsip antar kelompok maka akan memicu konflik dengan kelompok lain, dimana kelompok tersebut memperebutkan siapa yang pantas untuk berkuasa dan mendominasi.Â
Akar dari permasalahan rasisme ini diyakini karena adanya perasaan superioritas suatu kelompok atas dasar perbedaan biologis yaitu ras atau etnis sehingga mereka memiliki hak untuk menguasai sekaligus mengatur kelompok lain.
Definisi rasisme menurut Steve Garner dalam bukunya berjudul Racisms: An Introduction adalah superioritas salah satu ras terhadap ras yang lain, yang dalam hasilnya berupa diskriminasi dan prasangka terhadap orang lain berdasarkan ras atau etnis.
Pembedaan ras sudah dimulai pada zaman Yunani kuno. Plato dan Aristoteles memberikan suatu ide mengenai keunggulan dari ras bangsa Yunani. Plato dan Aristoteles mengemukakan bahwa bangsa Yunani adalah bangsa yang ditakdirkan sebagai penguasa bangsa-bangsa lain dan bangsa-bangsa lain tersebut harus mengakui keunggulan dan tunduk oleh bangsa yang lebih kuat dibanding mereka.Â
Pemikiran inilah dengan cepat diserap dan diterapkan orang pada zaman Yunani. Rasionalitas yang sangat dipegang erat, membuat orang-orang beranggapan bahwa untuh meraih keberhasilan tertinggi harus memusnahkan ras-ras yang lain.Â
Dalam rasisme selalu berupa ketegangan upaya dalam mencap bahwa eksistensi diri dan kelompok lebih baik daripada yang lain, ini menyangkut persoalan suatu identitas, biologis, dan fisik yang dipandang lewat persepektif diri sendiri.Â
Bentuk-bentuk dari rasialisme dapat dilakukan secara terbuka ataupun secara terselumbung, secara terbuka biasanya berupa hinaan, ujaran dan makian sementara terselubung berupa cara kita menatap seseorang dan lewat aturan-aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat (biasanya aturan adat)
Kasus rasisme yang terjadi dalam sepak bola seringkali menimpa orang-orang yang berkulit hitam. Diskriminasi terhadap orang-orang berkulit hitam ini menjadi akar masalah yang di kemudian hari makin memperbesar kasus rasisme.Â
Rasisme dalam sepak bola yang sebagian besarnya berasal dari diskriminasi rasial sangat problematik. Perlakuan rasisme yang diterima pemain dan pelatih dapat mengganggu konsentrasi permainan di lapangan, dan juga merusak nilai-nilai fairplay dalam olahraga. Belum lagi dampak buruk di luar lapangan yang dirasakan yaitu bagi psikis mereka yaitu trauma berkepanjangan.
BAB II
PEMBAHASAN
Rasisme dalam dunia sepak bola sering muncul dalam sebuah pertandingan antar klub atau antarnegara. Rasisme dalam sepak bola disebabkan oleh banyak faktor seperti sejarah masa lalu sebuah klub, ego etnis, serta adanya kesenjangan ekonomi masyarakat antar wilayah suatu negara.Â
Faktor lain timbulnya rasisme adalah karena adanya sikap fanatik terhadap klub tertentu sehingga ketika klub yang didukungnya kalah atau bermain secara tidak maksimal supporter merasa tidak puas dan tidak menerima bahwa permainan lawan lebih baik.Â
Ditambah lagi dengan steoreotip rasial yang ada dalam masyarakat, seperti orang berkulit hitam dicap sebagai orang yang sulit berkembang, malas, kejam, dan minim karakter. Sementara soal kemampuan secara kognitif orang kulit putih dianggap lebih unggul.
Seperti kasus rasisme yang terjadi di sepak bola Indonesia pada tanggal 23 Februari 2022 dalam pertandingan 32 besar Grup Q Liga 3 yang mempertemukan Persikota Tangerang vs Belitong FC, di Stadion Benteng Tangerang.Â
Diduga pihak official, pemain, tamu tribun dan supporter Persikota Tangerang melakukan tindakan tak terpuji yang menyasar kepada pelatih dan salah satu pemain Belitong FC yang berasal dari Papua yaitu tepuk tangan dan suara menirukan monyet yang bersifat merendahkan dan meremehkan.Â
Hal ini berdampak pada pelatih kepala dan pemain Belitong FC yang menderita trauma psikis sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut dari psikiater.Â
Berdasarkan kasus tersebut kasus rasisme terjadi bukan karena permainan sepak bolanya tetapi karena masalah sosial dan lingkungan sosial para pelaku rasislah yang jadi faktor utama.Â
Selain itu, sanksi yang diberikan oleh federasi sepak bola di Indonesia yakni PSSI dirasa kurang tegas seperti; denda atau hukuman tanpa penonton bagi klub. Ini secara tidak langsung memicu berkembang dan terpelihara nya rasisme yang disebabkan karena tidak adanya regulasi dan hukuman tegas yang dapat membuat jera para fans klub dari aksi rasial.Â
PSSI juga pernah mengeluarkan surat edaran bernomor 457/UDN/2114/X2018 yang dibuat pada tahun 2018 yang intinya adalah apabila terdapat tindakan rasisme baik dalam bentuk tindakan secara langsung seperti; nyanyian maka pertandingan langsung diberhentikan. Tujuannya adalah menghilangkan segala bentuk tindakan rasisme berupa nyanyian bernada rasis dan spanduk-spanduk yang berbau SARA (suku, agama, dan ras).
Asosiasi sepak bola telah melakukan tindakan dalam memerangi isu rasisme yang dilakukan oleh pemain ataupun para penggemar sepak bola, seperti adanya gerakan Kick It Out sebagai salah satu organisasi gerakan sosial dalam memperjuangkan keadilan sosial di dunia sepak bola. Melalui gerakan tersebut sepak bola lebih inklusif dan mengurangi isu rasisme.
Federation Internasional de Football Association (FIFA) terutama sebagai garda terdepan federasi sepak bola dunia telah bekerja sama dengan European Commision dalam EU Anti-Racism Action Plan 2020-2025 sebagai langkah awal melawan rasisme.Â
Seluruh asosiasi sepak bola dunia juga akan selalu mendukung segala bentuk kampanye untuk mengurangi isu rasisme, seperti gerakan berlutut sebelum pertandingan di mulai sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye Black Lives Matter di tahun 2020.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas sikap rasisme dalam sepak bola merusak nilai yang terkandung dalam olahraga yakni menjujung tinggi sportifitas, keberagamaan, kesetaraan, dan keadilaan.Â
Beberapa orang yang menjadikan olahraga sebagai milik golongan masyarakat tertentu memunculkan sikap rasisme yang akan membawa ras tertentu yang lebih superior memiliki kekuatan dan hak untuk mengatur hal lainnya.Â
Untuk mengatasi tindakan rasisme, semua pihak-pihak dan organisasi yang menjadi bagian dari sepak bola harus saling bekerja sama dan turut andil dalam membuat aturan-aturan yang bersifat mengikat semua elemen yang ada dalam sepak bola agar terciptanya suasana sepak bola yang harmonis.Â
Pendidikan dan dukungan dari gerakan-gerakan atau kampanye, lembaga kemasyarakatan, institusi negara dan media menolak rasisme juga perlu dilakukan secara konsisten untuk menghilangkan sikap rasisme dari sepak bola.
Rekomendasi
Beberapa saran yang dapat diusulkan :
1. Untuk pemain, sebagai pemain sepak bola harus melihat teman satu tim atau lawan tanpa merendahkan dari warna kulit, ras, suku, dan kemampuan bermain. Sebagai pemain juga harus ikut mendukung serta bersungguh-sungguh memaknai melakukan gerakan-gerakan kampanye anti-rasisme.
2. Untuk penggemar sepak bola, sebagai penggemar yang untuk mendukung serta meramaikan sebuah pertandingan, tidak perlu untuk meremehkan dan melecehkan pemain dan tim lawan agar meminimalisir terjadinya kekacauan.
3. Untuk federasi sepak bola, sebagai induk organisasi yang salah satu tugasnya adalah membuat aturan seharusnya aturan yang dibuat lebih tegas lagi yang sifatnya mampu mempersempit ruang gerak pelaku rasisme di lapangan agar olahraga sepak bola bersih dari rasisme.
DAFTAR PUSTAKA:
Arsyad. (2022, September 21). Mengurangi Benang Kusut Rasisme dalam Sepak Bola. Retrieved Oktober 20, 2022, from startingeleven.id: https://startingeleven.id/mengurangi-benang-kusut-rasisme-dalam-sepakbola/
Fajar, E. (2019, Agustus 24). Melawan Rasisme dengan sepakbola. Retrieved Oktober 20, 2022, from kumparan.com: https://kumparan.com/erik-fajar-susandi/melawan-rasisme-dengan-sepakbola-1rjCaKcY8ly
Ferianto, B. (2020, April). Rasisme Dalam Olahraga. Jurnal Penjakora Volume 7 No. 1 Edisi April 2020, 7, 69-77.
Fitri, G. (2021, Juli 13 ). Rasisme Dalam Sepak Bola. (S. Wicaksono, Editor) Retrieved Oktober 20, 2022, from ValidNews,id: https://www.validnews.id/kultura/rasisme-dalam-sepak-bola
Ma'arif, K. (2022, Februari 26). Belitong FC Sesalkan Rasisme Persikota Tangerang: Mereka Sebut Kita Monyet. Retrieved Oktober 20, 2022, from detiknews: https://news.detik.com/berita/d-5959646/belitong-fc-sesalkan-rasisme-persikota-tangerang-mereka-sebut-kita-monyet
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI