Sejak Nopember 2023, Houthi telah menargetkan puluhan kapal dagang dengan rudal, pesawat nirawak, dan serangan speed boat kecil di Laut Merah dan Teluk Aden. Mereka telah menenggelamkan dua kapal, menyita kapal ketiga, dan menewaskan empat awak kapal.
Houthi mengatakan mereka bertindak untuk mendukung Arab-Palestina dalam perang antara Israel dan Hamas di Gaza, dan telah mengklaim -- kebanyakan ngawur - bahwa mereka menargetkan kapal-kapal yang hanya terkait dengan Israel, AS, atau Inggris.
Kelompok Houthi tidak gentar menghadapi pengerahan kapal perang Barat di Laut Merah dan Teluk Aden untuk melindungi kapal dagang, atau oleh serangkaian serangan udara AS dan Inggris terhadap sasaran militer Houthi.
Israel juga telah melancarkan serangan udara terhadap Houthi sejak Juli sebagai balasan atas 400 rudal dan drone yang menurut militer Israel telah diluncurkan ke negara itu dari Yaman, yang sebagian besar telah ditembak jatuh.
Penunjukan SDGT bagi Houthi mengharuskan lembaga keuangan AS untuk membekukan dana Houthi dan berarti anggotanya akan dilarang memasuki AS.
Penunjukan FTO berarti bahwa siapa pun di AS atau luar negeri yang dicurigai memberikan dukungan atau sumberdaya kepada Houthi dapat dituntut berdasarkan berbagai undang-undang AS, termasuk undang-undang yang melarang dukungan material untuk terorisme.
Kelompok hak asasi manusia sebelumnya mengatakan hal ini dapat mencegah organisasi kemanusiaan beroperasi di wilayah yang dikuasai Houthi, tempat sebagian besar penduduk Yaman tinggal.
Rashad al-Alimi, yang memimpin Dewan Kepresidenan Yaman yang diakui secara internasional, berterimakasih kepada Trump atas penunjukan tersebut, yang menurutnya merupakan "kunci akuntabilitas dan langkah menuju perdamaian dan stabilitas di Yaman dan kawasan".
Merespon gambaran perkembangan baru di atas, apalagi di saat Trump berkuasa sekarang ini, dimana ia sudah menyatakan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas tidak akan bisa dimaafkan, dan Trump bisa saja membiarkan Israel membumihanguskan lagi Gaza dalam rangka penghancuran Hamas. Dan Houthi adalah duri terakhir yang juga harus dilenyapkan dari poros perlawanan yang dipimpin Iran, sehingga Revisionisme dari dunia Arab terhadap tanah legacy Israel takkan pernah ada lagi.
Pastinya perkembangan baru ini menegaskan kebijakan pemerintahan Trump dalam memperketat tekanan terhadap kelompok Houthi dan, secara lebih luas, terhadap poros perlawanan yang dipimpin Iran. Penetapan kembali Houthi sebagai "Organisasi Teroris Asing" (FTO) menunjukkan pendekatan keras yang bertujuan melindungi sekutu AS, terutama Israel dan negara-negara Teluk, serta menjaga stabilitas perdagangan maritim global yang terancam oleh aksi Houthi di Laut Merah.
Respon ini sejalan dengan pandangan Trump tentang dukungan mutlak kepada Israel, termasuk kemungkinan tindakan agresif terhadap Hamas di Gaza. Dalam hal ini, Houthi dianggap sebagai ancaman strategis terakhir yang perlu diatasi untuk memperlemah jaringan perlawanan terhadap Israel di Timur Tengah.