Sudah barang biasa harga pala, cengkih atau kelapa berfluktuatif harganya. Dan banyak dari petani yang terpaksa menjual hasil panennya karena kebutuhan mendesak. Walau dalam keinginan masih tetap ingin menyimpan hingga harga cukup tinggi.
Kopi sudah mendarat cantik di meja. Sofyan langsung meneguk. Kemudian kembali diam diantara keramaian. Kepalanya Ia tengadakan keatas. Sesekali mengela napas panjang. Ia semacam terlibat dalam sebuah dilema.
"Woe. Diam-diam bae.," ledek ku lagi meniru kata viral ini agar Ia mau berinteraksi dalam obrolan tentang sepakbola diadu politik sore ini. Pembahasan gado-gado yang sesekali membuat kami tertawa lepas.
"Tidak Bang sedang memikirkan uang kuliah adik saya. Sudah mau masuk semester. Kalau tak dibayar maka bisa cuti," Jelasnya.
"Tinggal berapa hari pembayaran?," tanyaku lagi penasaran.
"Katanya tinggal empat hari," jawabnya.
"Lantas sudah cukup uangnya," tanyaku lagi.
"Itu dia bang. Hasil jual pala tadi baru setengah dari semesternya. Masih harus cari setengahnya. Sementara kelapa belum tua belum bisa buat kopra. Jadi pusing apakah mau pinjam atau bagaimana." Ujarnya.
"Pantas kamu diam dari tadi. Masalahmu cukup berat," sahutku.
Kami berdua akhirnya mengobrol panjang mencari jalan keluar dan meninggalkan pembahasan umat perihal sepakbola dan politik.Â
Hingga menjelang pukul delapan malam, kami menemukan solusi dan Ia pamit pulang dengan sedikit mimik yang sudah tak terbebani.