Mentari adalah anak yang ceria, meski terlahir dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan tidak mampu berbicara secara verbal. Dengan tatapan penuh kasih dan senyuman polos, ia menyampaikan perasaannya melalui gestur sederhana.
Meskipun tidak "sesempurna" anak lain, keceriaan dan antusiasme Mentari selalu mengisi rumahnya. Namun, di balik senyuman kecilnya, tersimpan pergulatan yang tak selalu mudah bagi keluarganya.
Orang tua Mentari telah mengusahakan berbagai cara agar anak mereka bisa seperti anak-anak pada umumnya. Terapi demi terapi dijalani, mereka berharap suatu hari akan mendengar kata "ayah" atau "ibu" dari bibir Mentari.
Ibu selalu menerima Mentari apa adanya, menyayanginya tanpa syarat. Tetapi ayah, meskipun menyayangi Mentari, tampak belum sepenuhnya bisa menerima keadaannya. Ayah berharap Mentari bisa menjadi anak yang "biasa," bisa bicara, bisa mengerti instruksi, tidak "berbeda."
Rasa malu itu kadang muncul ketika orang lain melihat kondisi Mentari, membuat ayah terkesan ingin "menyembunyikan" keberadaan Mentari sebagai bagian dari keluarganya.
***
Suatu hari, seorang rekan kerja ayah datang berkunjung ke rumah. Ibu menghidangkan minuman dengan Mentari yang berlarian ceria di sekitar ruangan. Di tengah keceriaan itu, tanpa sengaja, Mentari menyenggol ibu yang tengah membawa air, menumpahkannya ke meja, membasahi perangkat rekan ayah.Â
Ayah marah besar, ia merasa kesal dan frustrasi karena betapa sulitnya mengatur Mentari.
"Mentari, kamu itu harus lebih tenang! Jangan terus-terusan bikin keributan di rumah!" bentak ayah, wajahnya merah menahan marah.
Ibu segera menghampiri dan berusaha menenangkan. "Sudah, yah, dia tidak sengaja. Mentari hanya ingin bermain..."