00000
Setiap Hanafi mengirim pesan singkat, aku tak membalasnya. Tapi aku menyimpan semua pesan itu. Katanya, dia minta dicarikan pinjaman untuk melunasi hutang-hutangnya. Setelah pendidikan selesai dan hutang-hutangnya lunas, maka dia akan segera pindah tugas. Setelah itu dia mau mencairkan pinjaman ke bank, untuk melunasi hutang-hutangnya pada saudara-saudara.
“Bilang sama dia, isterinya disuruh telpon panjenengan. Aku pingin tahu saja! Kalau dia tidak membual, seharusnya sejak dahulu isterinya menelpon panjenengan untuk meminjam uang. Berarti benar, dia tidak cerita ke isterinya!”
“Kalau mau pinjam bank, yang mau tanggung jawab dan membayar angsurannya siapa? Enak saja bilang tolong carikan pinjaman bank.”
Andai saja dulu aku mendengarkan dan melaksanakan pendapat isteriku, mungkin aku tak serepot ini. Kata isteriku, tidak perlu menunggu 1000 hari meninggalnya ibu, semua warisan dibagi. Tiap anak memegang sertifikatnya sendiri-sendiri. Setelah itu terserah, mau dijual tanahnya, atau digadaikan sertifikatnya, atau untuk investasi.
Aku dan Drajat sepakat, tidak akan menggubris pesan dari Hanafi. Kami punya keluarga dan tanggungan anak isteri sendiri. Drajat sendiri, dia justeru hidupnya lebih susah. Drajat dan isterinya tidak memiliki penghasilan tetap. Toko kelontongnya hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
00000
Hampir satu bulan, Hanafi tidak mengirim pesan singkat. Tidak ngrepoti pinjam uang lagi. Aku dan Drajat bisa bernafas lega.
Tiba-tiba aku diberi tahu Drajat bahwa Hanafi bersama anak isteri datang ke rumahnya. Pagi itu aku mendatangi rumah yang ditempati Drajat. Tidak lain rumah Bapak dan Ibu.
Di rumah Bapak dan Ibu aku bertemu isterinya Hanafi dan anaknya. Di ruang tamu ada anak dan isterinya Drajat. Drajat sendiri tidak ada. Sedangkan Hanafi entah di mana.
“Liburan ya nduk?” aku menyapa keponakanku, anaknya Hanafi.